Nasakom dan Akhir Tragis Kekuasaan Soekarno

Bendera Nasakom
Bendera Nasakom

Nasakom adalah Soekarno. Soekarno adalah Nasakom. Mungkin itu narasi yang tepat untuk menggambarkan ideologi politik presiden pertama RI Ini.

Soekarno sudah mulai mengembangkan gagasan Nasakom sejak sebelum Indonesia merdeka. Dalam artikelnya berjudul “Nasionalisme, Islam, dan Marxisme” yang terbit di majalah Soeloeh Indonesia Moeda, ia menuliskan pentingnya persatuan kaum nasionalis, Islamis, Marxis dalam perlawanan tanpa kompromi (non-kooperatif) terhadap Belanda. Dari sinilah Soekarno terus menyemai idenya tersebut hingga di penghujung pemerintahannya, bahkan hingga kelak meninggal.

PKI tampil ke muka

Soekarno bak menemukan jalan lapang buat menegakkan ide Nasakomnya saat ia menjadi presiden, terutama pasca pemilu 1955. Dalam Pemilu pertama 1955 yang disebut-sebut paling demokratis itu, lahir tiga kekuatan politik; Islam, nasionalis dan komunis. Masyumi meraih 20,9 persen suara dan menang di 10 dari 15 daerah. Jika digabungkan dengan perolehan suara NU sebesar 18,4%, maka persentase politik Islam hampir mencapai 40%. Sementara Partai Nasional Indonesia (PNI) memperoleh suara 22,3 persen.

Yang cukup mengejutkan adalah perolehan suara PKI yang mencapai 16 %. Meskipun berada di urutan ke-3 di bawah koalisi partai Islam (Masyumi dan NU), perolehan suara PKI terbilang spektakuler mengingat pasca pemberontakan PKI Madiun 1948 kekuatan kaum komunis nyaris babak belur.

Baca juga: Bunglonisme (II): Dari Proklamasi Hingga Kembalinya Musso

Aidit (kiri) dan Nyoto, dua Pemimpin Penting PKI pasca 1948

Keberhasilan PKI ini tidak bisa dilepaskan dari tangan dingin DN Aidit, MH Lukman dan Njoto. Setelah berhasil mendongkel pimpinan PKI angkatan tua, trio pemimpin muda PKI tersebut melenggang menuju panggung kekuasaan. Perlahan namun pasti, Aidit dkk semakin dekat dengan Soekarno. Ia mendukung apa saja ide-ide Soekarno, termasuk ide Nasakom. Puja-puji kepada Soekarno dilontarkan secara terbuka lewat media-media PKI seperti Harian Rakyat.

Dengannyalah Aidit dkk mendapat privilese dari Soekarno. Kelak DN. Aidit, MH. Lukman, dan Njoto akhirnya masuk Kabinet Nasakom.

Masyumi dibubarkan

Kelompok yang paling diuntungkan dalam konstelasi politik pasca 1955 tentu saja adalah PKI. Hanya saja gerak langkah partai komunis itu sedikit terhambat oleh rivalnya, Masyumi. Bagi Masyumi, Islam tak mungkin bersenyawa dengan paham komunis. Meskipun media pernah merekam keakraban M Natsir dengan Aidit saat minum kopi bersama, namun secara ideologi mereka kerap bersilang sengketa secara tajam.

Bagi Masyumi dan umat Islam ideologi komunis adalah ancaman serius sebagaimana sudah dibuktikan pada pemberontakan PKI Madiun 1948 yang banyak memakan korban ulama dan umat Islam. Kekhawatiran Masyumi dan umat Islam bahwa PKI akan berkhianat lagi terbukti benar kelak pada 1965.

Masyumi juga keras menolak konsep Demokrasi Terpimpin dan penyatuan tiga kekuatan; Agama dan Komunisme (Nasakom) yang dilontarkan Soekarno. Saat itu Masyumi membaca kedekatan Soekarno dengan PKI sebagai tanda-tanda semakin menguatnya pengaruh PKI. Soekarno tentu saja juga mengetahui perseteruan tajam keduanya. Tapi presiden pertama RI itu lebih memilih PKI. Masyumi pun dibubarkan melalui Keppres Nomor 200/1960 tanggal 15 Agustus 1960.

Tak cukup di situ, rezim Demokrasi Terpimpin Soekarno pun memenjarakan tokoh-tokoh Masyumi. Pada 16 Januari 1962, ketua umum terakhir Partai Masjumi, Prawoto Mangkusasmito, dijebloskan ke tahanan. Bersamaan dengan tokoh-tokoh politik lainnya seperti Mr. Mohamad Roem, M. Yunan Nasution, K.H. M. Isa Anshary dan E.Z Muttaqin. Tokoh-tokoh nasionalis kritis lainnya seperti Sutan Sjahrir, Subadio Sastrosatomo, Anak Agung Gede Agung, Sultan Hamid, dan Mochtar Lubis, pun dibui.

Buya Hamka menyusul dipenjara pada 1964. Ulama dan sastrawan yang berpolemik panjang dengan Pramudya Ananta Toer ini ditangkap di rumah setelah mengisi pengajian rutin di Masjid Al Azhar. Berhari-hari keluarga tak tahu di mana tempat Buya Hamka ditahan. Selama dipenjara, Buya Hamka harus menerima siksaan fisik dan intimidasi. Saat dijenguk, kondisi Buya Hamka tampak berbeda. Badannya kurus dan kulitnya lebih hitam. [Lihat Rusydi Hamka, Pribadi dan Martabat Buya Hamka, Pustaka Panjimas: Jakarta, 1983]

Nasakom, batu pijakan PKI

Nyaris sejak saat itu PKI tak memiliki rival berarti. ABRI maupun NU memang kerap tak seirama dengan PKI, tetapi perlawanan mereka tetap tak setangguh Masyumi yang berani melawan PKI secara frontal dan terbuka.

Dengan berlindung di ketiak Soekarno dan mendukung ide Nasakom-nya, praktis secara defacto PKI telah berada di puncak kekuasaan. Soekarno sendiri sering memuji-muji PKI di hadapan umum. Pada Kongres ke-6 PKI pada 1959, Bung Karno mengucapkan pidato; Yo Sanak Yo Kadang, Yen Mati Aku Sing Kelangan. Dalam rapat raksasa memperingati ulang tahun ke-45 PKI pada 1965, Soekarno menulis pidato berjudul; Subur, Suburlah PKI. Pujian Bung Karno ini mengisyaratkan dukungan penuh kepada PKI sekaligus menggambarkan keselarasan pikirannya dengan pikiran PKI. Inilah masa ketika PKI semakin memperoleh angin segar dalam kekuasaan nyaris tanpa lawan berarti.

Dengan kata lain, Nasakom menjadi batu pijakan PKI untuk mencapai tampuk kekuasaan. Dalam saat bersamaan doktrin Nasakom terus menggelinding bak bola salju. Tiap hari rakyat dicekoki dengan doktrin Nasakom. Sekolah-sekolah dan pemerintahan pun tak luput. Lewat penerbitan buku, kalangan intelektual dan akademisi tukang berlomba-lomba mengadopsi Nasakom sebagai pemikiran teoretis yang seolah-olah ilmiah.

Pers dipaksa mengikuti kehendak Soekarno dan diwajibkan mendukung Nasakom. Media massa yang melawan, dibreidel. Akibatnya, selama 1959-1961, oplah surat kabar merosot tinggal sepertiganya, dari 1.039.000 eksemplar untuk 90 surat kabar menjadi 710.000 eksemplar untuk 65 surat kabar. [Lihat  Yudi Latif, Inteligensia Muslim dan Kuasa: Genealogi Inteligensia Muslim Indonesia Abad Ke-20, Mizan: Bandung, 2005]

Akhir hayat Nasakom

Pemberontakan PKI pada 1965 menjadi akhir hayat Nasakom. Kekuasaan Sang Pemimpin Besar Revolusi yang dibangun dengan slogan-slogan megah itu akhirnya runtuh.

Tokoh-tokoh utama PKI diburu. Aidit sendiri ditangkap di Solo pada 22 November 1965 setelah penguntitan yang dramatik. Ketua CC PKI itu dieksekusi dan konon jenazahnya dibuang dalam sebuah sumur tua di belakang markas Batalion 444, Boyolali.

Kemarahan rakyat tak terbendung. NU yang selama ini menjadi pendukung setia Soekarno dan satu plot dengan PKI dalam kabinet justru yang terdepan melawan PKI.

Toh demikian gentingnya situasi saat itu Soekarno masih enggan membubarkan PKI. Penggagas Nasakom itu seakan yakin bahwa keadaan akan membaik dan kekuasaannya kembali pulih.

Pak Harto, dalam obiografinya, Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya, menceritakan detik-detik pertemuannya dengan Soekarno. Saat itu Suharto menyarankan agar Sang Dwitunggal membubarkan PKI. Tapi Soekarno menolak dengan alasan ia telah mengampanyekan ide Nasakam kepada dunia. “Mau ditaruh di mana mukaku?” Kata Pak Harto menirukan.

Situasi memang akhirnya tak dapat dikendalikan sebagaimana anggapan Soekarno. Perlahan-lahan kekuasaannya dipreteli. Puncaknya ketika MPRS menunjuk Suharto sebagai Plt Presiden RI pada Maret 1967 dan presiden penuh pada pada Maret 1968. Dan punahlah kekuasaan presiden pertama RI itu bersamaan dengan redupnya doktrin Nasakom. Pada 21 Juni, ia pun wafat setelah menghabiskan hari-hari terakhirnya sebagai tahanan pemerintah Orde Baru.

Penulis: Md Aminudin

Share:

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on pinterest

Update Artikel Terbaru

Dapatkan beragam artikel sejarah yang renyah dibaca namun ditulis secara mendalam

ARTIKEL TERKAIT
%d blogger menyukai ini: