Kisah Epik Fatahillah Mengusir Portugis dari Sunda Kelapa

Fatahillah
Fatahillah

Ulang tahun Jakarta yang diperingati saban 22 Juni tak bisa dilepaskan dari sosok Fatahillah. Panglima perang kesultanan Islam ini berhasil mengusir Portugis dari Sunda Kelapa. Pasca kemenangan itu nama Sunda Kelapa diubah sebagai Jayakarta atau Jakarta yang kita kenal sekarang sebagai Ibu Kota RI.

Syahdan, lima abad lalu, tepatnya 22 Juni 1527, dalam embusan badai nan dahsyat yang menampar-nampar perairan Sunda Kalapa, sebuah armada yang terdiri dari 20 kapal perang tradisional sedang menanti dengan tegang di tepi teluk.

Sementara itu, dari arah kejauhan kapal perang berbendera Portugis tampak terhuyung-huyung diempas badai. Armada itu terdiri dari 6 kapal berjenis galleon[1] memiliki 21-24 pucuk meriam, dengan 600 prajurit bersenjata lengkap. Ini bukan kali pertama armada Portugis datang ke Sunda Kalapa. Lima tahun sebelumnya mereka mengikat perjanjian dengan Kerajaan Padjadjaran yang menguasai Pelabuhan Sunda Kalapa. Kerajaan Hindu-Jawa itu perlu baking untuk membendung supremasi Kesultanan Islam Demak—juga Banten dan Cirebon—sebagai kekuatan baru di Tanah Jawa. Datangnya Portugis kali ini untuk melaksanakan Perjanjian Padrao yang ditandatangani pada 21 Agustus 1522 itu.

Bagi Kesultanan Islam Demak sendiri, kali ini adalah pertempuran penentuan. Pada 1513 dan 1521, koalisi Kesultanan Islam (Demak-Cirebon) gagal mengusir Portugis dari Malaka. Bahkan pada serangan kedua, mereka harus kehilangan Sultan Demak sekaligus pemimpin perang, Adipati Unus alias Pati Unus.

Fatahillah atau Fadillah Khan, pimpinan armada koalisi Kesultanan Islam sadar jua, teknologi persenjataan pasukannya tidak ada apa-apanya dibanding armada Portugis yang memiliki teknologi canggih pada zamannya. Maka strategi yang jitu menjadi satu-satunya pilihan kalau tak ingin dua pengalaman pahit sebelumnya terulang. Maka Fadillah Khan sengaja menahan armadanya untuk tetap bertahan di teluk. Sebab kalau ia nekat menghadapi armada Portugis di laut terbuka, itu sama saja bunuh diri karena jangkauan meriam Portugis jauh lebih baik ketimbang milik armadanya. Dengan kata lain Fadillah Khan sengaja mengundang Portugis untuk mendekat sehingga terjadi pertempuran pantai.

Suasana mencekam itu pecah ketika sebuah kapal perang Portugis berusaha memasuki teluk, mencoba menghindari badai. Bak sekawanan lebah, kapal-kapal Kesultanan Islam menembakkan meriam dan bola api tepat di lambung dan geladak kapal nahas itu. Empat kapal Portugis lainnya tidak berani memasuki Teluk Sunda Kalapa dan memilih menghadapi badai. Tenggelamnya kapal tersebut membuat Duarte Coelho, pimpinan armada Portugis, ciut nyali dan segera balik badan memerintahkan armadanya kembali ke Malaka dalam ancaman badai.

Kronik Fatahillah

Ihwal asal usul Fatahillah, hingga kini masih menjadi perdebatan. Nama Fatahillah pertama kali muncul dalam buku Geschiedenis van Java (Sejarah Jawa) karya Fruin Mees (1920), berdasarkan catatan penulis Portugis (1546) tentang Raja Sunda yang bernama Tagaril. Menurutnya, Tagaril merupakan salah tulis dari kata Fagaril. Kata Fagaril sendiri merupakan perubahan dari kata aslinya, yaitu Fatahillah (kemenangan Allah).

Prof Hoessein Djajadiningrat, dalam disertasinya (1913) mengatakan; kata Faletehan atau Falatehan itu mungkin salah dengar atau salah tulis dari kata Fathan, lengkapnya fathan mubinan (kemenangan yang sempurna).

Dalam disertasi yang sama, Prof Hoessein Djajadiningrat juga menyebut Fatahillah dan Sunan Gunung Jati (Walisongo) adalah satu sosok (Tinjauan Kritis tentang Sejarah Banten, Prof Hoessein Djajadiningrat, 1913). Namun Carita Purwaka Caruban Nagari (Cerita Awal-mula Negeri Cirebon) yang disusun oleh Pangeran Arya Carbon tahun 1720, menyebut bahwa Fadhillah Khan dan Sunan Gunung Jati adalah dua sosok yang berbeda. Memang, keduanya punya kedekatan, baik kekeluargaan, masa hidup, misi dan tempat dikebumikan. Nyai Ratu Ayu adalah istri Fatahillah. Sunan Gunung Jati adalah ayah Nyai Ratu Ayu. Dengan demikian, fatahillah adalah menantu anggota Walisongo sekaligus pendiri Kesultanan Cirebon itu. Dalam hal misi, keduanya sama-sama pernah bahu-membahu mengusir Portugis dari bumi Nusantara.

Penulis-penulis Portugis menyebutnya Faletehan atau Tagaril, orang Jawa menyebutnya Wong Ageng Pasei, kelak ketika berhasil menaklukkan Sunda Kalapa ia juga digelari Fatahillah. Ia terlahir dengan nama Fadhillah dari ibu Syarifah Siti Musalimah binti Maulana Ishak dan Ayah Mahdar Ibrahim Patakan bin Abdul Ghofur, Mufti kesultanan Pasai yang terkenal alim dan menguasai ilmu-ilmu agama.

Sebagai anak yang terlahir di lingkungan Kesultanan Pasai yang terletak di Selat Malaka, Fadhillah memperoleh pendidikan kemiliteran terutama kemiliteran laut. Dari ayahnya yang ulama besar itu, ia memperdalam ilmu-ilmu agama. Sehingga ia pun tumbuh sebagai pribadi yang tangguh lagi intelek.

Pada 1495, ketika usianya 24 tahun, Fadhillah merantau ke Kesultanan Malaka yang saat itu dipimpin Sultan Mahmud Syah yang juga sahabat ayahnya (Mahdar Ibrahim). Ada satu riwayat menyebut, bahwa kepiawaian Fatahillah dalam menghalau para bajak laut yang waktu itu banyak berkeliaran di Selat Malaka telah mengundang decak kagum Hang Tuah pemimpin tertinggi Angkatan Laut Kesultanan Malaka. Dan karena itu pulalah kelak Fatahillah menggantikan kedudukan Hang Tuah ketika laksamana masyhur itu lengser. Tahun 1510, setelah 15 tahun mengabdi, Fadhillah berhenti dan kembali ke Pasai.

Baru setahun setelah kepergian Fadhillah, sebuah badai dari Barat mengantam Malaka. Tahun 1511 Malaka diserang dan diduduki Portugis. Sultan Mahmud Syah terpaksa mengungsi ke pulau Bintan dan dari pengungsiannya ini ia meminta bantuan Kerajaan Demak, karena untuk meminta bantuan Kekhalifahan Turki terlalu jauh. Sebagai sesama kerajaan yang dipersatukan dalam ikatan ukhuwah, armada Demak-Cirebon dibawah komando sultannya sendiri, Pati Unus, pada tahun 1512 menyerang Portugis di Malaka. Namun serangan itu gagal. Armada mundur kembali ke Demak.

Kekalahan armada Demak menyentak keprihatinan Fatahillah. Ia menyimpulkan kekalahan Demak terjadi karena teknologi persenjataan dan strategi perang. Maka pergilah Fatahillah ke negeri leluhurnya, di daerah Nasrabat, India (tempat asal Maulana Jamaludin Husein/Shekh Jumadil Kubro). Setelah selesai mempelajari teknik pembuatan senjata api dan meriam, Fadhillah melanjutkan pengembaraan ke Turki guna mempelajari strategi perang melawan bangsa Eropa.

Armada Portugis

Tahun 1519, Fadhillah pulang ke tanah kelahirannya di Pasai. Tanpa diketahuinya, Pasai telah jatuh ke tangan Portugis 6 tahun sebelumnya. Setelah gagal menginjakkan kaki ke kampung halamannya sendiri, terpikir olehnya untuk menemui (pamannya?) Sunan Gunung Jati, yang saat itu menjadi penguasa Cirebon.[2]

Serangan Koalisi Tiga Kesultanan Islam

Kekalahan koalisi Kesultanan Islam atas Portugis pada 1512/1513 lampau tak membuat mereka putus asa. Serangan kedua untuk mengusir bangsa penjajah itu dari Nusantara pun direncanakan. Kehadiran Fadhillah, setelah pengembaraannya di India dan Turki yang cukup menguasai taktik dan persenjataan Bangsa Eropa, dianggap sebagai sebuah berkah bagi koalisi Kesultanan Islam. Pati Unus, Sultan Demak pengganti Raden Fatah yang meninggal pada 1518, langsung mengangkat Fadhillah sebagai wakil pimpinan pasukan tertinggi. Sementara Pati Unus sendiri, dengan gelar Senapati Sarjawala menjadi pemimpin tertinggi pasukan.

Sebuah serangan besar-besaran dilakukan. Tak tanggung-tanggung, koalisi 3 Kesultanan Islam (Demak, Cirebon dan Banten) mengerahkan sekitar 400 kapal dengan 10 ribu lebih prajurit. Portugis pun dibuat was-was karenanya. Tapi toh kegagalan 8 tahun lalu terulang. Bahkan Pangeran Sabrang Lor alias Pati Unus gugur dalam pertempuran laut itu. Fadhillah, yang menggantikan Pati Unus sebagai kepala pasukan, terpaksa menarik mundur armadanya untuk menghindari kehancuran yang lebih parah.

Kegagalan kedua ini benar-benar membuat koalisi Kesultanan Islam terpukul. Namun tak berarti mereka menyerah begitu saja. Para sultan berikut para wali berembug mengatur strategi paling jitu untuk mengusir bangsa penjajah itu. Atas saran Sunan Gunung Jati strategi perang diubah dari ‘menyerang’ ke ‘memancing’. Mereka tidak lagi berpikir menyerang Portugis ke Malaka yang pastinya membutuhkan biaya besar dan persiapan yang lama, melainkan memancing agar Portugis keluar dari sarangnya (Malaka). Karena itu ruang gerak sekutu Portugis di Jawa, yaitu Kerajaan Padjadjaran, perlu dibatasi.

Portugis si ambisius yang ingin memonopoli perdagangan rempah-rempah di Nusantara sehingga pedagang-pedagang luar negeri pun enggan berhubungan, dan Padjadjaran yang tak senang dengan kian kuatnya kerajaan-kerajaan Islam di Jawa, adalah dua kepentingan yang amat klop. Pada 21 Agustus 1522, keduanya menandatangani sebuah perjanjian yang antara lain berisi; 1) Portugis dapat mendirikan benteng di pelabuhan Sunda Kalapa. 2) Raja Padjadjaran akan memberikan lada sebanyak yang diperlukan Portugis sebagai penukaran barang-barang kebutuhan Padjadjaran. 3) Portugis akan membantu Padjadjaran apabila diserang tentara Demak atau yang lainnya. 4) Sebagai tanda persahabatan, raja Padjadjaran menghadiahkan 1000 karung lada setiap tahun kepada Portugis. Inilah awal mula tumbuhnya bibit-bibit penjajahan bangsa asing atas Nusantara hingga berabad-abad kemudian.

Tindakan Raja Padjadjaran ini justru mengundang ketidakpuasan sebagian rakyatnya yang beragama Islam. Beberapa daerah pesisir berusaha pula melepaskan diri dari Padjadjaran. Terjadilah perlawanan rakyat yang antara lain dipimpin oleh Maulana Hasanuddin (putra Sunan Gunung Jati) yang menentang perjanjian itu (Halwany Microb dan A Mujahid Chudari,1993. Catatan Masa Lalu Banten, Serang, Penerbit Saudara).

Akhir Dominasi Portugis

Arkian, pada 22 Juni 1527, seperti yang dicatat sejarah, Portugis akhirnya bisa diusir dari Sunda Kalapa. Atas kemenangan ini, Fadhillah diangkat sebagai Gubernur Sunda Kalapa, yang kemudian diubah namanya menjadi Jayakarta yang berarti Kota Kemenangan. Paska keberhasilannya mengusir Portugis dari Sunda Kalapa, Fadhillah memperolah gelar baru, yaitu Fatahillah yang berarti kemenangan dari Allah. Roda sejarah pun terus bergulir. Kelak, ketika VOC berhasil menancapkan kukunya di Nusantara, pada 1619 Jan Pieterszon Coen mengubah nama Jayakarta menjadi Batavia. Nama ini konon diambil dari Republik Batav, nama Belanda saat dikuasai oleh Napoleon Bonaparte, penguasa Perancis.

Sang Founding Father Jayakarta sendiri meninggal di Cirebon pada 1570 dalam usia 80 tahun. Dimakamkan di kompleks Astana Gunung Jati di puncak Gunung Sembung, bersebelahan dengan makam mertuanya, Sunan Gunung Jati. (Ekadjati, 1975)

Demikianlah sekelumit cerita tentang sosok Fatahillah yang masyhur itu. Di luar berbagai misteri tentang asal usulnya, Fatahillah adalah sebuah simbol kepahlawanan dan perlawanan atas bangsa penjajah di Nusantara.

Penulis: Md Aminudin

——————————–

[1] Galiung atau galiun adalah kapal layar besar yang memiliki dek bertingkat-tingkat, berbobot 800 ton lebih, dan umumnya dipakai oleh bangsa Eropa dari abad ke-15 hingga abad ke-18.

[2] Sunan Gunung Jati putra Syarif Abdullah ibn Ali Nurul Alam/Maulana Israil. Ali Nurul Alam atau Kakek Sunan Gunung Jati ini adalah saudara kandung dari Zainul Alam Barokat kakek buyut Fatahillah.

Share:

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on pinterest

Update Artikel Terbaru

Dapatkan beragam artikel sejarah yang renyah dibaca namun ditulis secara mendalam

ARTIKEL TERKAIT
%d blogger menyukai ini: