Jelajah Dakwah Syekh Yusuf al-Maqassari

Syekh Yusuf
Syekh Yusuf

Syekh Yusuf adalah seorang pribadi yang lengkap. Ia seorang sufi, ulama, cendekiawan, penjelajah dan pahlawan. Jelajah dakwahnya membentang membentang dari kepulauan di Nusantara, baik di Sulawesi, Jawa, melintasi benua India hingga benua Afrika. Namun namanya bukan hanya harum karena dakwahnya, tetapi juga karena gelora jihad yang mewarnai hidupnya. Puluhan karyanya menjadi jejak khazanah keilmuan di Nusantara.

Hubungan umat Islam di Nusantara dengan umat Islam di dunia memang terjalin sejak lama. Ibadah haji menjadi salah satu penghubung penting umat Islam di Nusantara dengan umat di dunia, khususnya di Haramayn (Mekkah dan Madinah). Umat Islam di Nusantara bukan hanya ke Tanah Suci untuk melaksanakan ibadah haji tetapi juga menimba ilmu. Selepas menimba ilmu, sebagian kembali ke tanah air, melebarkan sayap dakwah, sebagian lainnya mengajar di Mekkah dan Madinah, menjadi guru, terutama bagi orang-orang Nusantara yang menimba ilmu di Haramayn.

Jaringan ulama Nusantara dengan ulama di dunia Islam, terutama di Jazirah Arab, terjalin oleh proses ini. Jaringan ini menghasilkan ulama-ulama Nusantara yang amat dikenal hingga kini, seperti Hamzah Fansuri, Nuruddin ar-Raniri, Abdurauf as-Singkili, Abdushamad al-Palimbani, Arsyad al-Banjari, termasuk Yusuf al-Maqassari. (Azra: 2006)

The Coming of Sheik Joseph- Foto: G.S. Smithard; J.S. Skelton (1909)

Muhammad Yusuf bin Abdullah Abu al-Mahasin al-Taj al-Khalwati al-Maqassari, atau biasa dikenal Syekh Yusuf Al Maqassari lahir di Gowa 1627. Sejak kecil ditempa dengan pendidikan Islam, mulai dari membaca al-Qur’an dengan ustad setempat, yaitu Daeng ri Tasammang, lalu belajar bahasa Arab, fikih tauhid dan tasawuf dengan Sayid Ba’Alwi bin Abdullah al-‘Allamah at-Thahir di Bontoala. Ketika berusia 15 tahun ia menimba ilmu kepada salah seorang ulama terkenal di Cikoang, yaitu Jalaluddin al-Aydid. Setelah itu ia menikah dengan putri Sultan Gowa. Namun menikah tak menghambatnya untuk terus menuntut ilmu. (Azra: 2013)

Makassar sebagai kota pelabuhan penting di Nusantara pada masa itu memudahkannya untuk meneruskan perjalanannya menimba ilmu. Dari Makassar, ia bertolak ke pelabuhan Bantam (Banten). Di Banten, penguasa kala itu adalah Sultan Abu al-Mafakhir ‘Abdul Qadir (1626-1651). Sultan ini dikenal sebagai penguasa yang memiliki minat besar pada ilmu-ilmu agama. Maka tak mengherankan jika Banten kala itu menjadi salah satu pusat keilmuan Islam di Nusantara (Guillot: 1990). Di masa itulah Syekh Yusuf Al Maqassari kemungkinan juga belajar di Banten, dan yang tak kalah penting berhubungan dekat dengan putra mahkota bernama Abdul Fattah, atau yang kelak lebih dikenal dengan Sultan Ageng Tirtayasa. Cakrawala keilmuan Al-Maqassari begitu luas sehingga menghubungkan ia dengan Nuruddin ar-Raniri, salah seorang ulama besar berdarah India-Melayu dan menjadi Mufti Kesultanan Aceh. Al-Maqassari tampaknya berguru pada ar-Raniri. Pengakuan ar-Raniri sebagai guru dari al-Maqassari tampak dari karyanya Safinat an-Najah,

“Yang alim lagi utama. Yang arif lagi sempurna. Yang mengumpulkan ilmu syariat dan hakikat, yang menyelidiki makrifat dan tarekat. Tuanku dan guruku, Syekh Muhammad Jaylani yang lebih terkenal dengan sebutan Syekh Nuruddin bin Masanji bin Muhammad Hamid al-Quraisy al-Raniri. Semoga Tuhan mensucikan roh beliau dan memberi cahaya pusaranya.” (Azra: 2013)

Dari Benua India, akhirnya al-Maqassari melanjutkan menuntut ilmu ke Yaman. Di sini ia berguru kepada Muhammad bin Abdul Baqi al Naqsyabandi dan lainnya. Penjelajahannya dalam menimba ilmu membawanya pada pusat keilmuan, yaitu Mekkah dan Madinah. Di Haramayn inilah ia berguru kepada ulama-ulama yang juga menjadi guru ulama-ulama lain dari nusantara seperti Abdurrauf as-Singkili, yang kelak menjadi mufti Kesultanan Aceh. Bersama Ibrahim al-Kurani, Ahmad Qusyasyi dan Hasan al Ajami mereguk semesta ilmu mulai dari tasawuf, hadis, tafsir, fikih dan lainnya. Di Mekkah ia tak hanya belajar, tetapi juga mengajar. Kebanyakan muridnya adalah jama’ah haji dan orang-orang komunitas Jawi di Haramayn. Diantaranya adalah Abdul Basyir ad-Dharir dari Rappang, Sulawesi Selatan, yang menjadi penyebar tarekat Naqsanbandiyah dan Khalwatiyah di Sulawesi Selatan. Dari Tanah Suci, pengembaraannya berlanjut ke Damaskus, Suriah. Di sana ia berguru pada Ayyub al-Khalwati, seorang sufi dan pakar fikih, tafsir dan hadist terkenal di Suriah. (Azra: 2013)

Tasawuf memang menjadi salah satu aspek yang mengiringi hidup Syekh Yusuf al Maqassari. Ia mendalami tasawuf dari tarekat Shattariyyah, Qadariyyah, Naqshabandiyyah dan Khalwatiyyah. Tak dapat dipungkiri, Islam masuk ke Nusantara melalui para ulama-ulama tasawuf, terutama setelah jatuhnya Baghdad ke tangan Mongol. Umat Islam termasuk para sufi kemudian berpencar ke segala penjuru termasuk ke Nusantara (Johns: 1961). Namun patut diperhatikan bahwa pada abad ke-17, pengamalan tasawuf memberikan perhatian besar pada aspek syariat. Syariat menjadi bagian yang tak bisa dilepaskan dari tasawuf. Hal ini berlaku juga pada pengamalan tasawuf yang diamalkan oleh Syekh Yusuf al-Maqassari. Baginya jalan tasawuf hanya dapat dilalui dengan kesetiaan penuh, baik secara lahir maupun batin kepada doktrin hukum Islam. Menurutnya orang yang hanya bersandar pada syariat Islam lebih baik daripada orang yang mengamalkan tasawuf namun mengabaikan ajaran-ajaran hukum Islam. Ia bahkan menyebut orang yang percaya bisa dekat kepada Allah tanpa melakukan ibadah seperti shalat dan puasa disebut zindiq dan mulhid (sesat). Ia menyebutkan, jalan untuk mendekati Allah adalah dengan banyak shalat, membaca Qur’an dan Hadis, termasuk Jihad fi Sabilillah. (Azra: 2013)

Suriah adalah pengembaraan al-Maqassari yang terakhir di Jazirah Arab, hingga ia akhirnya kembali ke Nusantara, tahun 1664 atau 1672, setelah lebih dari 20 tahun menuntut ilmu. Sebagian pendapat, seperti Buya Hamka, menyatakan ia kembali ke Gowa, Sulawesi Selatan. Di sana ia menemukan kenyataan pahit bahwa umat Islam tidak melaksanakan ajaran Islam dengan baik. Jatuhnya Kesultanan Gowa dan Tallo ke tangan VOC membawa kemunduran bagi perilaku bangsawan dan penguasa lokal. Perjudian, minum arak, hingga menghisap candu menjadi kebiasaan masyarakat di sana. Sarannya untuk menegakkan hukum Islam pada penguasa tidak diindahkan. Hingga ia akhirnya meninggalkan Gowa, menuju Banten. (Azra ; 2013)

Di Banten ia menemui sahabatnya, Sultan Ageng Tirtayasa, yang saat itu menjadi penguasa Banten (1651–1683). Di Banten ia menikah dengan putri Sultan dan kemudian menduduki posisi amat tinggi sebagai Mufti Kesultanan Banten. Sumber-sumber Belanda menyebutnya opperpriester atau hoogenpriester (pendeta tertinggi). Jabatannya sebagai penasihat Sultan memang berhubungan dengan keluasan ilmunya dalam soal agama. Sultan Ageng Tirtayasa mewarisi minat besar ayahnya terhadap persoalan agama. Selain memiliki minat mendalam terhadap agama, Sultan juga amat membenci penjajah VOC. (Azra: 2013)

Ironi kemudian menghampiri kisah Kesultanan Banten. Putra Mahkota Kesultanan Banten, Abdul Qahar, yang disebut Sultan Haji menjadi sumber keruntuhan Kesultanan Banten. Tak seperti ayahnya yang amat membenci VOC, Sultan Haji menjadi amat dekat dengan VOC. Prahara antara ayah dengan anak kemudian pecah. Perang antara Sultan Ageng Tirtayasa yang didukung Syekh Yusuf al-Maqassari, ulama serta rakyat berhadapan dengan Sultan Haji yang didukung VOC tak terhindarkan. Ketika tahun 1683 Sultan Ageng Tirtayasa ditangkap VOC dan dikirim ke Batavia, Syekh Yusuf meneruskan Jihad fi Sabililah melawan VOC secara geriliya. Bersama 4000 pasukannya Jihad fi Sabilillah ia gelorakan. Syekh Yusuf memang tidak pernah menulis sebuah risalah khusus mengenai jihad, seperti Abdushamad al-Palimbani, namun dalam karya-karyanya ia tetap menekankan pentingnya jihad. (Darusman: 2008)

Jihad fi Sabilillah yang digelorakan Syekh Yusuf melawan VOC baru padam ketika ia ditangkap VOC tahun 1686. Ia kemudian dibawa ke Batavia untuk kemudian diasingkan ke Sri Lanka (Ceylon) karena dianggap sebagai tokoh yang berbahaya. Namun pengasingan tak mampu meredupkan pengaruh yang dipancarkan oleh Syekh Yusuf al-Maqassari. Di Sri Langka ia menghasilkan salah satu karyanya Safiatun Najah. Baginya, pengasingan di Benua India (Sri Langka) adalah tempat ia mengharap berkah, seperti halnya Nabi Adam yang telah diturunkan dari Surga ke Benua India. Hal ini ia kemukakan dalam kata pengantar Safiatun Najah. Selain di Banten, ia banyak menghasilkan karya di Sri Lanka.

Safiatun Najah sendiri adalah sebuah karya yang ia hasilkan atas permintaan seorang ulama India bernama Ibrahim Minhan. Tampaknya kehadirannya diketahui oleh para ulama India melalui penguasa Moghul, Aurangzeb (1659-1707). Aurangzeb sendiri berkali-kali meminta pada VOC untuk memperhatikan kesejahteraan Syekh Yusuf al-Maqassari. Dari hal ini kita dapat menyimpulkan betapa besarnya nama Syekh Yusuf hingga figurnya dikenal luas di Benua India. Dari 29 karyanya, terdapat delapan karya yang ia tulis di Sri Lanka, di antaranya; al-Barakat al Saylaniyah, Nafhat al-Saylaniyah, Kafiyat al-Mughni fi al-Itsbat bi al-Hadits al-Qudsi. Pengasingan di Sri Lanka tak mampu membendung pancaran dakwah yang dijalaninya. Bahkan kehadirannya menarik banyak jamaah haji Melayu untuk menghampirinya ketika mereka singgah dalam perjalanan menuju Mekkah. Bahkan salah satu karyanya, Risalat al-Ghayat ditulisnya untuk para kawannya, yaitu jamaah haji. Tentu saja hal ini membuat Belanda khawatir. Pada tahun 1106 H/1693 EB, Belanda mengasingkan Syekh Yusuf yang sudah berusia 68 tahun ke tempat yang lebih jauh, yaitu ke Tanjung Harapan, Afrika Selatan. (Azra: 2013)

Tanjung Harapan adalah tempat buangan tokoh yang berbahaya, termasuk bagi orang-orang Melayu. Pada 2 April 1694, ia tiba di Tanjung Harapan bersama 49 orang pengikutnya. Kemudian ia dibawa ke Zandvliet. Namun toh pengasingan kali ini tetap tak mampu mematikan gelora dakwahnya. Bersama 12 orang muridnya, ia mengajar dan melakukan kegiatan di pondok-pondok mereka. Muridnya semakin bertambah, banyak dari mereka adalah mualaf. Meski ia tak lagi menghasilkan karya tulis di sana, namun kegiatan mengajar semakin intens, hal ini membuat penguasa Belanda lagi-lagi khawatir. Penguasa lalu memerintahkan kegiatan Kristenisasi terhadap seluruh budak Muslim di sana. Namun upaya itu gagal, padahal al-Maqassari sendiri tinggal di tanah milik Petrus Kalden, pendeta Gereja Belanda Tua Cape Town. (Azra: 2013)

Al-Maqassari memang bukan pembawa agama Islam di Afrika Selatan, namun dengan dakwahnya ia telah membuat agama Islam semakin hidup dan berkembang di sana. Sepanjang hidupnya ia menuntut ilmu, berjihad melawan penjajah dan berdakwah, menjelajah dari Sulawesi, ke Banten, Yaman, Damaskus, Mekkah, Sri Lanka hingga Afrika Selatan. Di mana ia berpijak, di situlah dakwahnya berkembang, mengokohkan agama Islam, menarik umat, dari penguasa hingga rakyat jelata. Ia wafat pada 22 Dzulqaidah 1111 H/22 Mei 1699, dimakamkan di Faure. Hingga kini, ribuan peziarah setiap tahun mengingat dengan hikmat kebesaran perjuangannya.

Penulis: Oleh: Beggy R – Penggiat Jejak Islam untuk Bangsa (JIB)

————————

Daftar Pustaka:

Azra, Azyumardi. 2006. Islam in the Indonesian World; An Account of Institutional Formation. Bandung: Mizan Pustaka.

Azra, Azyumardi. 2013. Jaringan Ulama timur tengah dan kepulauan nusantara abad XVII dan XVIII.Kencana Prenada Media Group: Jakarta.

Jones, A.H. 1961. Sufism As A Category in Indonesian Literature and History. Journal of Southeast Asian History, Vol. 2, No. 2.

Guillot, Claude, Hasan Ambary dan Jacques Dumarcay. 1990. The Sultanate of Banten. Jakarta: Gramedia Book Publishing Division.

Darusman, Lukmanul Hakim. 2008. Jihad in Two Faces of Shari’ah: Sufism and Islamic Jurisprudence (Fiqh) and The Revival of Islamic Movements in The Malay World: Case Studies of Yusuf Al-Maqassary and Dawud Al Fattani. Disertasi tidak diterbitkan Australian National University.

Share:

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on pinterest

Update Artikel Terbaru

Dapatkan beragam artikel sejarah yang renyah dibaca namun ditulis secara mendalam

ARTIKEL TERKAIT
%d blogger menyukai ini: