Ketika Para Kiai Dibunuh

Monumen Kresek
Monumen Kresek

Kalangan PKI panik mendengar kabar gerak maju pasukan Siliwangi ini. Mereka kemudian dengan membabi buta dan secara keji mulai menghabisi para tawanan yang masih ada dan disekap di kamar-kamar loji (Gorang Gareng, Madiun). Saya bersama dua orang yang selamat, berusaha bangkit dari timbunan mayat (orang-orang yang dibantai PKI).

“Astaghfirullah, ruangan ini benar-benar banjir darah. Saya masih ingat, ketika Siliwangi datang pada lewat tengah hari, pintu kamar didobrak dari luar. Daun pintunya sempal dan roboh, jatuh ke lantai. Saking banyaknya darah membanjir di lantai, daun pintu yang tebalnya lebih 4 cm itu mengapung di atas genangan darah. Saat saya melangkah ke luar pun, merasakan betapa banjir darah yang menggenang di lantai kamar dan sepanjang koridor, mencapai di atas mata kaki saya,” kisah Kiai Roqib kepada wartawan Halwan Aliuddin tahun 2005. Kiai Roqib adalah Imam Masjid Jami’ Baitus Salam, Kabupaten Magetan. Pada 1948, saat usianya belum genap 20 tahun guru ngaji ini ditangkap PKI dan terjadilah peristiwa yang mengerikan itu.”

Lain lagi kisah dari Kiai Daenuri. KH Achmad Daenuri adalah pimpinan Pondok Pesantren ath Thohirin, Mojopurno, Magetan. Ia adalah salah satu putra KH Soelaiman Zuhdi Affandi korban kekejaman PKI 1948. Pesantren yang didirikan ayahnya itu menjadi pusat latihan generasi muda melawan Belanda dan Jepang.

Pada 1948, Kiai Daenuri baru berusia 10 tahun. Ia melihat ayahnya Kiai Affandi ditangkap PKI dengan cara licik. “Ketika beliau sedang iktikaf di Masjid, dibopong dari belakang dan diculik,” terangnya. Kiai Affandi diseret-seret dan disekap bersama ratusan tawanan lain, umumnya tokoh agama dan partai, di rumah loji Belanda di kawasan Pabrik Gula Gorang gareng (kini Pabrik Gula Rejosari, Magetan).

Dari tempat penyekapan ini, ayahnya bersama sejumlah tawanan lain dipindahkan ke desa Soco, Magetan dengan menggunakan kereta lori pengangkut gula dan tebu. Gerbong kereta sangat sempit dan dijejali puluhan tawanan lain. Kiai Daenuri mendapat kesaksian tentang kematian ayahnya ini dari beberapa tawanan lain yang selamat. Selama dalam penyekapan itu ayahnya mendapat siksaan yang keji, namun berbagai penyiksaan itu tidak mampu membunuh ayahnya.

Baca Juga: Sejarah Komunis di Indonesia (1)

“PKI jengkel menghadapi Kiai yang demikian digdaya, tidak mempan senjata tajam apapun bahkan kebal peluru. Karenanya pada suatu kesempatan, ketika beliau meminta izin untuk mengambil air wudhu, seorang anggota PKI mendorong beliau hingga tercebur ke dalam sumur. Segera setelah itu sumur ditimbun dengan puluhan hingga ratusan jenazah lain dari para syuhada. KH Soelaiman Zuhdi Affandi dikubur hidup-hidup oleh PKI,” papar Kiai Daenuri.

Sebelumnya diketahui bahwa jumlah syuhada yang dikubur di beberapa sumur pembantaian di Desa Soco adalah 67 orang dan telah diketahui nama-namanya, Namun setelah sumur dibongkar, ternyata ditemukan 108 kerangka jenazah. Kerangka jenazah dievakuasi dan dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Kota Madiun. Para syuhada dikuburkan kembali dalam satu liang lahat dan diberi prasasti dengan sebutan Makam Soco. Prasasti atau nisan besar itu memuat 67 nama syuhada, sedang 41 korban lainnya, dengan nomor urut 68 hingga 108, dinyatakan tidak dikenal.

Selain Kiai Affandi, kakak dan adik Kiai Affandi yang juga guru ngaji, juga menjadi korban kekejian PKI. Ketika pecah Gerakan G 30S PKI, Pesantren Ath Thohirin yang dipimpin Kiai Daenuri menjadi pusat konsentrasi para pemuda GP Anshor untuk menyiapkan diri menghadapi PKI. “Kami bukan mendendam, karena para leluhur kami dihabisi PKI. Tapi komunis adalah lawan kami yang senyata-nyatanya. Karena komunis secara jelas menyatakan anti agama dan anti Tuhan. Untuk melawan komunis, kami harus senantiasa berada di barisan depan,” kata Kiai Daenuri.

Kekejian yang dilakukan PKI terhadap Kiai Dimyathi (Mbah Ngompak) lebih mengerikan lagi. “Saat melakukan shalat malam, Mbah Ngompak diseret ke luar masjid, kemudian diikat, dan akhirnya diseret dengan menggunakan kuda hingga sejauh 10 km mencapai Kota Kawedanan Walikukun, Ngawi. Kabarnya ketika itu, Mbah Ngompak belum juga wafat. Penyeretan kemudian kembali dilakukan ke arah Ngrambe. Namun setelah berjalan sejauh 4 km, orang-orang PKI itu berhenti di sebuah jembatan di kawasan Wot Galeh. Dari atas jembatan ini, tubuh Mbah Ngompak dilempar ke sungai yang curam. Jasad beliau ditemukan sudah dalam kondisi yang sangat mengenaskan,” tutur Kiai Damami, salah seorang cucunya yang kini tinggal di Pesantren Tanjungsari, Jogorogo, Ngawi.

Dalam aksinya September 1948 di daerah Madiun dan sekitarnya itu, memang ulah yang dilakukan PKI mengerikan. Selain pengakuan para saksi yang kini umurnya sudah 65 tahun-an ke atas, foto-foto dan monumen-monumen serta berita-berita di surat kabar waktu itu menunjukkan fakta-fakta otentik kekejian PKI ini. Pemimpin Redaksi Harian Abadi, Soemarso Soemarsono saat itu membuat catatan bahwa setelah rakyat dan TNI mengusir PKI dari Madiun, Magetan dan sekitarnya, ditemukan sebuah dokumen PKI yang menyatakan:

  1. Supaya para pengikut PKI Muso terus menjalankan sabotase
  2. Melakukan penculikan-penculikan
  3. Membunuh orang-orang yang merintangi maksud mereka
  4. Mengadakan pembakaran-pembakaran dan penculikan-penculikan
  5. Melakukan aksi militer

Soemarso juga menuliskan bahwa menurut berita yang dilansir Harian Nasional terbitan 15 Oktober 1948, Dr Abu Hanifah (pimpinan Masyumi) menerangkan bahwa kerugian-kerugian dari tindakan Amir (Syarifudin) dan Muso yang diderita oleh anggota-anggota Masyumi belum dapat ditaksir. Hanya, kalau untuk membangun kembali maka kira-kira akan dibutuhkan waktu 5 tahun.

“Menurut laporan yang sah, para pemimpin Masyumi yang telah mati terbunuh di Madiun ada 22 orang, di Magetan 13 orang, Ngawi 12 orang dan di Ponorogo 22 orang. Sedangkan di Cepu ada 140 orang anggota Masyumi dimasukkan dalam kereta api dan tidak diberi makan selama 3 hari. Sekarang mereka dalam keadaan yang sangat menyedihkan,” tulis Pemred Abadi, harian milik Masyumi ini.

Sastrawan terkemuka Taufik Ismail mencatat kekejaman PKI ini: “Di samping lubang pembantaian yang sengaja digali, tempat penyembelihan itu praktis dilakukan di sumur-sumur tua tak terpakai, yang banyak terdapat di desa-desa itu. Karena repot dan sibuk, di Cigrok korban dikubur hidup-hidup. Di sebuah sumur tua yang tak tertimbun penuh, terdengar suara azan dari dalamnya. Tapi Kiai Imam Sofwan dari Pesantren Kebonsari tidak tertolong.

“Pesantren-pesantren menjadi sasaran utama PKI, karena itulah komunitas yang anti-Marxis-Leninis, yaitu Pesantren Takeran, Burikan, Dagung, Tegalredjo (tertua), Kebonsari, dan Immadul Falah. Algojo PKI merentangkan tangga membelintang sumur, lalu Bupati Magetan dibaringkan di atasnya. Ketika telentang terikat itu, algojo menggergaji badannya sampai putus dua, langsung dijatuhkan ke dalam sumur.

“Dubur warga desa di Pati dan Wirosari ditusuk bambu runcing dan mayat mereka ditancapkan berdiri di tengah sawah sehingga mereka kelihatan seperti pengusir burung pemakan padi. Salah seorang di antaranya, wanita, ditusuk (maaf, TI) kemaluannya sampai tembus ke perut, juga ditancapkan PKI di tengah sawah.

“Seorang ibu, Nyonya Sakidi, mendengar suaminya dibantai PKI di Soco. Dia menyusul ke sana, sambil menggendong dua anak, umur satu dan tiga tahun. Dia nekat minta melihat jenazah suaminya. Karena repot melayaninya, PKI sekalian membantai perempuan malang itu, dimasukkan dan dikubur di sumur yang sama, sementara kedua anaknya itu menyaksikan pembunuhan ibunya. Adik Sakidi menyelamatkan kedua keponakannya itu.

Yel-yel PKI di Madiun dalam gerakan Republik Sovyet tersebut; Pondok bobrok, pondok bobrok! Langgar bubar, langgar bubar! Santri mati, santri mati! yang disorakkan dengan penuh kebencian dan ancaman.” Tutur Taufiq Ismail.

Menebar Angin, Menuai Badai

Pada 13 Januari 1965 sekitar pukul 04.30 subuh, lebih kurang 3000 anggota massa PKI yang dipimpin Ketua Pengurus Cabang Pemuda Rakyat Kediri, Soerjadi mengadakan teror dengan melakukan penyerbuan terhadap para aktivis Pelajar Islam Indonesia (PII). Saat itu para pelajar sedang mengadakan mental training (pelatihan mental) di desa Kanigoro, Kediri, Jawa Timur. Pada kesempatan itu massa PKI melakukan pemukulan dan penganiayaan terhadap para Kiai dan imam masjid serta merusak masjid, dan bahkan menginjak-injak kitab suci al-Qur’an.

Mereka melakukan penyerbuan sambil meneriakkan kata-kata antara lain: Ganyang Santri, Ganyang Masjumi, Ganyang Sorban, Ganyang Kapitalis, Ganyang Kontra Revolusi, Dulu waktu peristiwa Madiun besar kepala, kini rasakan pembalasan.

 Selain ada aksi PKI di berbagai daerah,  Ketua CC PKI DN Aidit dalam apel kesiapsiagaan Dwikora tanggal 2 April 1965, antara lain mengatakan bahwa, ”Manipol harus dibela dengan senjata. Manipol tidak bisa dibela hanya dengan tangan kosong. Oleh karena itu, latihan militer penting bagi orang-orang revolusioner manipolis dengan tujuan membela Manipol dengan senjata.”

Pada saat berlangsungnya peringatan HUT PKI ke-45 di Stadiun Utama Senayan Jakarta, tanggal 23 Mei 1965, Ketua CC PKI mengomandokan kepada massa PKI untuk meningkatkan “ofensif revolusioner sampai ke puncaknya.” Pada kesempatan HUT itu terpampang poster-poster raksasa, slogan-slogan tertulis menyeramkan seperti Ganyang Tujuh Setan Desa, Ganyang Tiga Setan Kota, Ganyang Kapbir, Intensifkan Konfrontasi dengan Malaysia, Bantu Vietnam Utara, Ganyang Kebudayaan Ngak Ngik Ngok, Sekarang Juga Bentuk Angkatan V dan lain-lain. Selain itu juga dipajang format raksasa gambar-gambar Bung Karno, DN Aidit, Lenin, Mao Tse Tung dan Karl Marx sebagai hiasan.

Pada bulan Agustus 1965 bertempat di Rawabinong, sekitar satu kilometer dari Lubang Buaya, diselenggarakan pelatihan khusus bagi para kader yang dikirim oleh CDB PKI Jawa Barat, sejumlah 120 orang dan kader-kader BTI (Barisan Tani Indonesia) Jakarta sejumlah 80 orang. Pada awal September 1965, juga di tempat yang sama diadakan pelatihan khusus bagi kader-kader tingkat pusat sejumlah 60 orang.

Hingga akhirnya terjadilah peristiwa Gerakan 30 Sepember 1965. Di mana pasukan-pasukan PKI menculik dan membunuh perwira-perwira Angkatan Darat dengan tujuan untuk ‘mengkudeta pemerintah’. Ternyata PKI gagal, karena para perwira Angkatan Darat cepat mengkonsolidasikan diri dan bersama rakyat –khususnya umat Islam—menangkap dan melawan PKI di berbagai daerah. Hingga akhirnya jatuh korban banyak dari PKI. Taufik Ismail menyebut bahwa jumlah besar korban dari PKI itu akibat dari ulah PKI sendiri yang kejam dalam aksi-aksinya.

Waktu terus berjalan. Kini simpatisan PKI telah berhasil menghapuskan kewajiban pemutaran film G30S PKI yang menceritakan aksi-aksi kejam PKI. Dan justru yang beredar di kalangan pemuda kini film aksi-aksi pembunuhan terhadap PKI (seperti film The Act of Killing/Jagal 2012 yang lebih pro PKI). Juga buku-buku kini banyak beredar di tengah masyarakat yang berusaha ‘mencuci dosa PKI’. Seolah-olah PKI adalah korban dan tidak pernah menjadi pelaku aksi kebiadaban dalam sejarah bangsa ini.

Akhirnya, Jenderal AH Nasution yang selamat dari pembunuhan PKI, dalam sambutannya di depan penguburan perwira-perwira TNI yang menjadi korban kebiadaban PKI menyatakan: “Rekan-rekan adik-adikku sekalian, saya sekarang sebagai yang tertua dalam TNI yang masih tinggal bersama yang lainnya, akan meneruskan perjuanganmu, membela kehormatan kamu. Menghadaplah sebagai pahlawan, pahlawan dalam hati kami seluruh TNI, sebagai pahlawan menghadaplah kepada asal mula kita yang menciptakan kita, Allah Subhana Wata’ala. Karena akhirnya Dialah Panglima Kita yang Tertinggi. Dialah yang menentukan segala sesuatu, juga atas diri kita semua. Tetapi dengan keimanan ini juga kita semua yakin bahwa yang benar akan tetap menang dan yang tidak benar akan tetap hancur. Fitnah-fitnah lebih jahat daripada pembunuhan, fitnah berkali-kali lebih jahat daripada pembunuhan.” Wallahu azizun hakim.*

Penulis: Nuim Hidayat

Rujukan:

Fadli Zon dan M Halwan Aliuddin, Kesaksian Korban Kekejaman PKI 1948, Komite Waspada Komunisme, Jakarta, 2005

Sekretariat Negara Republik Indonesia, Gerakan 30 September Pemberontakan Partai Komunis Indonesia, Setneg RI, Jakarta 1994

Jenderal Besar Dr AH Nasution, Peristiwa 1 Oktober 1965 Kesaksian Jenderal Besar Dr AH Nasution, Penerbit Narasi Yogyakarta, 2012

 Taufik Ismail, Presiden (15/8/15) Mau Minta Maaf Kepada PKI?, republika.co.id, 12 Agustus 2015

Share:

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on pinterest

Update Artikel Terbaru

Dapatkan beragam artikel sejarah yang renyah dibaca namun ditulis secara mendalam

ARTIKEL TERKAIT
%d blogger menyukai ini: