Al-Makmun, Khalifah Pelopor Kemajuan Sains Islam

Ahli bahasa Byzantium bertemu Khalifah Al Makmun BBC/Wikipedia
Ahli bahasa Byzantium bertemu Khalifah Al Makmun BBC/Wikipedia

Jauh sebelum dunia Barat menikmati manisnya ilmu pengetahuan dan teknologi, dunia Islam sudah terlebih dulu karib dengan sains sejak berabad-abad silam. Bahkan, agresi umat Islam di dunia sains sudah dimulai sejak abad ke-9.

Ketika itu, umat Islam yang perkembangannya masih banyak terpusat di kawasan Timur Tengah berada pada masa kekhalifahan Bani Abbasiyah, tepatnya di bawah pemerintahan khalifah Al-Ma’mun ar-Rasyid.

Pilih Buku Ketimbang Emas

Abdullah Al-Makmun bin Harun Ar-Rasyid (813-833 M) mulai memerintah Bani Abbasiyah pada 198-218 H/813-833 M. Ia adalah khalifah ketujuh Bani Abbasiyah yang melanjutkan kepemimpinan saudaranya, Al-Amin.

Sejak belia, Al-Makmun memang sudah tertarik dengan ilmu pengetahuan. Dia menimba ilmu hadits dari ayahnya dari Hasyim, dan ulama-ulama di zamannya. Al Yazidi adalah orang yang menggemblengnya.

Dia seringkali mengumpulkan para Fukaha dari berbagai penjuru negeri. Dia memiliki pengetahuan yang sangat luas dalam masalah fikih, ilmu bahasa Arab dan sejarah umat manusia.

Al-Ma’mun ar-Rasyid

Saat dia menjelang dewasa, dia banyak bergelut dengan ilmu filsafat dan ilmu-ilmu yg pernah berkembang di Yunani.  Ia perintahkan penerjemahan buku-buku filsafat Yunani ke dalam bahasa Arab. Sehingga membuatnya menjadi pakar dalam bidang ilmu ini. Tak heran di masa kekuasaannya, ilmu pengetahuan dan sains berkembang amat pesat.

Saking ‘gila’-nya terhadap ilmu pengetahuan, saat meraih kemenangan atas Byzantium (kini Istanbul-Turki), khalifah ini meminta ganti rugi perang bukan berupa emas melainkan salinan buku astronomi karya Ptolemeus yang berjudul Almagest.

Selanjutnya Al-Makmun menyuruh anak buahnya untuk mencari buku-buku ilmiah terbaik di Byzantium dan penerjemah terbaik agar buku-buku Yunani itu bisa dibaca oleh umat Islam melalui bahasa Arab. Ahli-ahli penerjemah yang diberi tugas Khalifah Al-Makmun diberi imbalan yang layak. Para penerjemah tersebut antara lain Yahya bin Abi Manshur, Qusta bin Luqa, Sabian bin Tsabit bin Qura, dan Hunain bin Ishaq yang digelari Abu Zaid Al-Ibadi. 

Al-Makmun kemudian diketahui memindahkan seluruh buku yang ada di perpustakaanya di Persia ke Baghdad (Irak) tempat Istananya berada.

Pembangunan Rumah Kebijaksanaan

Tidak hanya mendukung filosofi bangsa Barat dan sains, Al-Makmun juga kemudian membangun pusat pendidikan yang diberi nama ‘Baitul Hikmah’ atau ‘rumah kebijaksanaan’. Di tempat itu, berkumpul akademisi Islam dan penerjemah buku-buku Yunani yang ketika itu kebanyakan adalah umat Kristen. Ini sekaligus jadi bukti bahwa kekhalifahan sangat menghormati kerukunan umat beragama dan cinta perdamaian.

Al-Makmun juga mendirikan sebuah pusat observasi astronomi Islam pertama di Shamsiya pada tahun 829. Pusat observasi itu menjadi tempat pembuktian teori astronomi kuno, misalnya jarak matahari dan gerakan planet.

Sayangnya, sebelum melihat buah kerja kerasnya di dunia sains bagi umat Islam, pada 833 M, Al-Ma’mun. Sebelum kematiannya, Al-Ma’mun meminta penerusnya untuk melanjutkan aturan-aturannya, termasuk di dunia sains, dan tidak membebani rakyat dengan pajak atau hal lain di luar kemampuan mereka.

Berkat ketekunannya mengembangkan sains itu, Al-Makmun dikenal sebagai ‘Khalifah Sains’. Sementara masa pemerintahannya disebut sebagai masa keemasan sains di dunia Islam, di mana banyak cendekiawan berhasil memenuhi potensi mereka soal ilmu pengetahuan.

Sumber: Ilmuwan-ilmuwan Muslim: Pelopor di Bidang Sains Modern karya Ehson Masood, Encyclopaedia Britannica

Share:

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on pinterest

Update Artikel Terbaru

Dapatkan beragam artikel sejarah yang renyah dibaca namun ditulis secara mendalam

ARTIKEL TERKAIT
%d blogger menyukai ini: