Khasanah Seni Baca Al-Qur’an

Naskah Alquran tertua di dunia ditemukan di University of Birmingham (BBC)
Naskah Alquran tertua di dunia ditemukan di University of Birmingham (BBC)

Kekayaan seni dalam khasanah Islam dapat kita rasakan dari lantunan ayat-ayat al-Qur’an. Kesan, pesan dan pelajaran tersarikan melalui keindahan lantunan setiap ayatnya. Setiap kalimat dibunyikan dengan penghayatan akan keindahan sastra yang padat makna, mengandung seruan iman bagi setiap hati yang mendengarnya, beralirkan pahala bagi setiap qari yang mengalunkannya. Inilah seni baca al-Qur’an yang keagungannya telah mendunia, melewati batas generasi, bangsa, dan belahan dunia.

“Seni baca al-Qur’an memang sudah mendunia, tidak hanya di negara yang mayoritas beragama Islam. Di negara-negara Asia, Afrika, Eropa, Amerika Latin, dan USA, al-Qur’an sudah menjadi bacaan sehari-hari. Terbukti negara-negara tersebut selalu mengirim utusannya pada MTQ tingkat Internasional, baik ketika diselenggarakan di Indonesia, Brunei Darussalam, Malaysia, Iran, Turki, Mesir, dan Kerajaan Saudi Arabia,” ujar Drs. KH. Abdul Wahab Husein, pembina qiraah Jawa Timur.

Seni baca al-Qur’an dikenal sejak zaman Rasulullah. Ketika itu Siti Aisyah binti Abu Bakar, istri Rasul, datang terlambat karena takjub terhadap keindahan suara salah satu Sahabat yang sedang menulis ayat-ayat al-Qur’an dengan dilagukan. Ia dibayar untuk itu. Mendengar cerita Aisyah, Rasul ingin pula mendengarkan bacaan Sahabatnya itu, Abu Amr bin Ash. 

Atas peristiwa itu pula muncullah sabda Rasul yang berbunyi; Man lan taghonna bil Qur’an falaisa minna. Barang siapa yang tidak melagukan dalam membaca al-Qur’an, maka bukanlah golongan kami. Dengan memuji keindahan suara Abu Amr bin Ash sebagaimana suara Daud, Rasul bersabda; Zayyinul quraana biaswaatikum. Rasulullah memerintahkan umatnya untuk menghiasi al-Qur’an dengan suara yang merdu. Tentu maksud melagukan di sini adalah membaca al-Qur’an dengan tetap mengacu padahukum ilmu tajwid, dengan memperhatikan hukum-hukum bacaan dan lagu. Istilah tajwid sendiri artinya adalah bagus dan indah.

Lagu dan nada al-Qur’an berkembang di negara-negara Timur Tengah seperti Mesir, Iraq, Iran, Kuwait, Maroko, Saudi Arabia, Syiria, dan Lebanon. Kemudian ditetapkanlah langgam baku untuk disebarkan ke belahan dunia lain. Seni baca al-Qur’an muncul dan berkembang di Asia sejak kedatangan para qari asal Mesir pada 1950. Di antaranya adalah Syekh Abdul Bashith Abdul Shomad, Syekh Musthofa Ismail, Syekh Roghib Gholwasy, Syekh Mahmud al Husairi, dan Syekh Abdul Hay Ahmad Zahron. Mereka adalah ulama qari yang sangat popular bagi qori dan qoriah di Indonesia dan negara-negara Asia. Ketika itu lagu-lagu baca al-Qur’an disebut langgam samawi, yaitu lagu yang turun dari langit bersamaan dengan turunnya al-Qur’an kepada Rasulullah.

“Lagu-lagu al-Qur’an di Indonesia dikembangkan oleh qari dari Timur Tengah yang berdatangan ke negara Asia. Ketika itu, baru kita mengenal nama-nama lagu al-Qur’an. Seperti yang sekarang kita kenal Bayyati-Husaini, Shoba, Hijazi, Nahawand, Sika, Jiharka, Rokbi Makkawi, Duka, Ussyak, dan Rasyda,” jelasnya.

Seiring pengenalan dan pengembangan seni baca al-Qur’an di negara-negara Asia, diadakanlah Musabaqah Tilawatil Qur’an secara bertahap. Hingga sekarang dapat kita temui MTQ dalam tingkatan regional, nasional, hingga Internasional. Melalui kompetisi inilah seni baca al-Qur’an berkembang dan diwariskan ke berbagai generasi bangsa, termasuk Indonesia. 

Di berbagai daerah mulai berdiri lembaga pembinaan dan pengembangan seni baca al-Qur’an. Didukung pula oleh lembaga perguruan tinggi dalam pembelajaran dan penggiatannya kepada putra-putri bangsa. Selain itu peran Jam’iyyatul Qurra wal Huffazh dan pesantren-pesantren al-Qur’an sangat besar dalam membumikan al-Qur’an. Dari sana muncullah berbagai variasi tingkatan nada dari langgam-langgam yang sudah ada. Pengembangan ini terus dilakukan dengan adanya berbagai program pendidikan al-Qur’an hingga sekarang.

“Tingkatan nada seperti Qoror, Nawa, Jawab, Jawabul Jawab, dan Suri, itu dikembangkan secara akademis. Diajarkan di perguruan tinggi seperti IIQ dan PTIQ di Jakarta. Sehingga tadinya qari dan qariah hanya mengenal lagu dan suara itu. Lalu autodidak secara alami yang diperoleh dari kursus mengaji di Jam’iyyatul Qurro wal Huffazh maupun di pondok-pondok pesantren,” tutur lelaki kelahiran Malang ini.

Qiraah Sab’ah

Al-Qur’an diturunkan dalam lebih dari tujuh cara baca, ada pula riwayat lain yang mengatakan hingga sepuluh sampai dua belas bacaan. Akan tetapi menurut riwayat penurunannya, ulama hanya menyepakati tujuh bacaan, yang sekarang dikenal dengan qiraah sab’ah. Kemunculan perbedaan bacaan ini disebabkan karena dialek bahasa Arab kawasan Timur Tengah yang tidak sama rata. Lisan Suku Quraisy memiliki perbedaan secara khusus sehingga dipilih Allah sebagai dialek utama dalam menurunkan al-Qur’an. Atas perbedaan dialek lisan ini, Rasulullah selalu memastikan bacaan yang sampai pada umatnya melalui malaikat Jibril. Atas permintaan Rasulullah, malaikat Jibril melihat konsep al-Qur’an di Baitul Izzah dan mengabarkannya.

“Al-Qur’an memang diturunkan sesuai bahasa dan dialek yang digunakan Rasulullah pada saat itu. Yaitu bahasa Arab dari suku Quraisy keturunan Bani Hasyim. Kemudian seluruh Jazirah Timur Tengah menirukan bacaan al-Qur’an itu dengan dialek daerah masing-masing, yang tentunya tidak menyalahi makna ayat-ayat al-Qur’an itu sendiri. Karena Rasul selalu bertanya kepada malaikat Jibril as tentang bacaan yang diterima umatnya,” imbuhnya.

Qiraah sab’ah juga berkembang dan dipelajari oleh umat Muslim seluruh dunia. Secara umum, bacaan al-Qur’an yang digunakan di dunia adalah Qiraah Imam ‘Ashim yang diriwayatkan oleh Imam Hafs. Riwayat ini wajib diketahui dan digunakan dalam membaca al-Qur’an. Dalam pembacaan qiraah sab’ah harus mengikut imam riwayat. Seperti Imam Nafi’ yang diriwayatkan oleh Qalun, Warsy, atau Khalaf. Bacaan qiraah sab’ah yang dibenarkan adalah bacaan yang melalui minimal dua rowi.

Bacaan qiraah sab’ah juga sampai ke ajang Musabaqah Tilawatil Qur’an. Termasuk di Indonesia, bacaan ini kerap kali digunakan dalam MTQ. Hal ini menunjukkan keluasan cakupan seni baca al-Qur’an di seluruh belahan dunia. Tentunya dengan bacaan yang umum dengan riwayat yang jelas.

Share:

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on pinterest

Update Artikel Terbaru

Dapatkan beragam artikel sejarah yang renyah dibaca namun ditulis secara mendalam

ARTIKEL TERKAIT
%d blogger menyukai ini: