Kisah Kiai Hasyim Asyari Menolak Tunduk pada Belanda dan Jepang

Hadratus Syekh, Kiai Hasyim Asyari
kiai-hasyimaHadratus Syekh, Kiai Hasyim Asyari

Sebagai ulama besar, Kiai Hasyim Asyari tidak mengharapkan hidup dari sedekah dan belas kasihan orang. Tidak ingin pangkat dan kursi. Baik di zaman Belanda maupun Jepang. Tiap orang yang meminta pertolongannya tak pernah kecewa karena selalu ditolongnya.

Itulah goresan pena Tamar Jaya dalam bukunya Orang-orang Besar Tanah Air (1951) saat menjelaskan sosok Kiai Haji Hasyim Asy’ari. Siapa mengira di balik jiwa rendah hatinya ada kisah heroik mempertahankan kemerdekaan yang coba direbut penjajah Belanda.

Peranan ulama asal Jombang dalam sejarah perjuangan Indonesia tidak mungkin bisa diabaikan. Tercatat nama pendiri organisasi Nahdlatul Ulama (NU) itulah yang menjadi titik awal membangkitkan semangat perlawanan mempertahankan proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia.

Sang Ulama Melawan Imperialisme

Di masa penjajahan, Kiai Hasyim Asyari sangat tegas kepada imperialisme, baik terhadap Belanda maupun Jepang.  Pada tahun 1937 misalnya, seorang utusan Pemerintah Belanda datang untuk memberi tanda kehormatan pemerintah kepadanya, berupa bintang emas.  Tapi, Kiai Hasyim Asyari menolaknya, dengan alasan, kalau penghargaan itu diterima,  keikhlasannya dalam beramal saleh akan terganggu.

Hadratussyekh KH M Hasyim Asy’ari duduk di tengah (foto: pustaka tebuireng)

Penawaran jabatan dalam Pemerintahan Belanda itu tidak lepas dari posisinya sebagai Ra’isul Akbar Nahdlatul Ulama (NU) yang baru dibentuk. Sehingga penjajah harus bergerak cepat menyiasatinya agar Kiai Hasyim mau bergabung dan meninggalkan aktivitas-aktivitas sosial-keagamaannya. Karena bagaimana pun, fatwa-fatwanya sering kali membuat masyarakat terlecut untuk berjihad.

Baca juga: Resolusi Jihad Kiai Hasyim

Usai didatangi perwakilan Belanda itu, Kiai Hasyim mengumpulkan murid-muridnya. Ia lalu bercerita dasar sikapnya menolak pemberian Belanda tersebut. Suatu ketika, ujarnya di hadapan para santrinya, Nabi Besar Muhammad Saw, dipanggil oleh kakeknya, Abdul Muthalib. Baginda Nabi diberi tahu bahwasanya Pemerintah Jahiliah di Mekkah telah mengambil keputusan menawarkan tiga hal untuk Muhammad, yaitu: (1) Kursi kedudukan yang tinggi dalam pemerintahan. (2) Harta  benda (kekayaan) yang berlimpah-limpah, dan (3) Gadis yang tercantik seluruh Negara Arab.

“Akan tetapi, Baginda Nabi Muhammad menolak ketiga-tiganya itu, dan berkata di hadapan kakeknya, Abdul Muthalib, ‘Demi Allah, umpama mereka itu kuasa meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, dengan maksud agar aku berhenti berjuang, aku tak akan mau. Dan aku akan berjuang terus sampai cahaya keislaman merata di mana-mana, atau aku gugur lebur menjadi korbannya,’” terang ulama besar itu.

Segala upaya Belanda mengambil hatinya pupus. Ulama besar itu gagal “digarap” menjadi Kiai pro-Belanda. Kiai Hasyim Asyari seketika dianggap ulama yang tak bersahabat. Akibatnya, ia bersama pesantrennya terus diawasi.

Perlu dicatat, besarnya tekanan tak menyurutkan langkah ulama besar ini melawan penjajah Belanda. Kiai Hasyim tetap berdiri dalam pendirian menolak negosiasi dengan Belanda. Seruannya yang terkenal adalah mengajak masyarakat menjauhi gaya hidup orang Belanda.

Kiai Hasyim bahkan mengeluarkan fatwa larangan naik haji menggunakan kapal Belanda. Fatwa itu ditulis menggunakan bahasa Arab dan disiarkan Kementerian  Agama secara luas sehingga Van der Plas bingung. Seruan pendiri organisasi NU itu langsung direspons umat Islam. Banyak calon jamaah haji yang telah mendaftarkan diri kepada agen-agen Belanda berduyun-duyun menarik kembali pendaftarannya. [Lihat H. Aboebakar, Sejarah Hidup K.H A. Wahid Hasjim, Bandung: Mizan, 2011]

Pada tahun 1942, Jepang mendarat di Indonesia. Awalnya, kedatangan Jepang memberi harapan baru bagi rakyat Indonesia yang saat itu telah menaruh rasa benci terhadap Belanda. Namun harapan, tinggal harapan. Pada 15 Juli 1942, Jepang melarang semua aktivitas sosial politik bangsa Indonesia. Siapa saja yang melanggar atau dicurigai, akan diambil tindakan keras.

Tidak hanya itu, pemerintah pendudukan Jepang juga mengharuskan kaum bumi putra melakukan penghormatan pada kaisar Jepang, Tenno Heika. Penghormatan itu dilakukan setiap pagi, dengan cara membungkukkan badan ke arah sang kaisar. Upacara membungkukkan badan ke arah kaisar Jepang ini dikenal dengan sebutan saikeirei. Banyak ulama yang menentangnya.

Mereka berpendapat, bahwa upacara ini dianggap sebagai menuhankan sang kaisar. Dan itu, dalam akidah Islam, sudah jatuh ke syirik, sebuah dosa yang tak terampuni.  Di antara ulama yang menentang itu adalah Kiai Hasyim, dengan cara mengeluarkan fatwa umat Islam tak perlu melakukan saikeirei.

Kiai Hasyim akhirnya ditangkap Jepang. Ia dituduh sebagai dalang kerusuhan di pabrik gula Jombang. Sebuah tuduhan yang tidak punya dasar sama sekali. Ditangkapnya pendiri Pesantren Tebu Ireng Jombang tersebut membuat ulama semakin kokoh dan bersatu. Dalam kasus ini, Kiai Abdul Wahab Hasbullah dan Kiai Wahid Hasyim (putra Kiai Hasyim), mengancam, bila Kiai Hasyim tidak dilepas, mereka berdua bersedia untuk dipenjara bersama Kiai Hasyim. Belum lagi gerakan para kiai pesantren yang membuat advokasi untuk membela para kiai yang ditahan Jepang.

Ancaman tersebut berhasil,  Kiai Wahab dan Kiai Wahid tak jadi masuk penjara. Pada 18 Agustus 1942, setelah mendekam di penjara Jombang, Mojokerto, dan Surabaya, Kiai Hasyim dibebaskan. [Lihat: Herry Mohammad Dkk, Tokoh-tokoh Islam yang Berpengaruh Abad 20, Depok: GIP, 2006]

Share:

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on pinterest

Update Artikel Terbaru

Dapatkan beragam artikel sejarah yang renyah dibaca namun ditulis secara mendalam

ARTIKEL TERKAIT
%d blogger menyukai ini: