Lubang-Lubang Jahanam Pemberontakan PKI Madiun 1948

Suasana kota Madiun yang rusak parah pasca pemberontakan PKI Madiun 1948.
Suasana kota Madiun yang rusak parah pasca pemberontakan PKI Madiun 1948.

Pemberontakan Madiun 1948 dalam wacana sejarah seringkali diingatkan sebagai sebuah bukti kekejaman Partai Komunis Indonesia (PKI). Penulisan sejarah pemberontakan PKI di Madiun 1948 merupakan sebuah peristiwa sejarah yang sebenarnya amat terkait dengan kejadian-kejadian berikutnya yang terangkai hingga Tragedi September 1965.

Begitu banyak wacana mengenai Tragedi September 1965 saat ini. Namun sayangnya, sebagian wacana tersebut memisahkan Tragedi September 1965 dengan Pemberontakan Madiun 1948. Dan lebih disayangkan lagi, penulisan sejarah Pemberontakan PKI di Madiun 1948 tampaknya tidak banyak menyinggung derita umat Islam, terutama pembantaian ulama kala itu. Padahal pembantaian ulama dan santri oleh PKI tahun 1948 menjadi bukti bahwa pemberontakan PKI di Madiun bukanlah aksi pembelaan diri, seperti yang kelak disuarakan oleh tokoh yang terlibat maupun tokoh-tokoh PKI.

Pemberontakan Madiun ditandai dengan letusan pistol tiga kali pada 18 September 1948. Pembunuhan terhadap pejabat militer dan sipil di Madiun pun dimulai. Tak tertinggal para Kiai dan santri. Pesantren-pesantren dituju untuk dimangsa. Pendukung PKI mengincar tokoh-tokoh dari Pesantren Takeran atau yang lebih dikenal dengan Pesantren Sabilil Muttaqien (PSM) yang dianggap sebagai musuh utama mereka. Sebab, Pesantren Takeran di bawah Kiai Imam Mursjid Muttaqien yang masih berusia 28 tahun itu adalah pesantren yang paling berwibawa di kawasan Magetan. Pada 17 September 1948, Kiai Imam Mursjid beserta beberapa orang yang menemaninya, dibawa oleh PKI dan tak pernah kembali. Mereka dihabisi karena Kiai Imam Mursjid tak mau mendukung PKI. Keesokan harinya, 18 September 1948, Pesantren Burikan turut diserbu pendukung PKI. (Tim Penyusun Jawa Pos: 1990)

Lubang-lubang Jahanam

Di Desa Cigrok, sebelah selatan Takeran, terdapat sumur tua yang digunakan PKI sebagai tempat pembuangan korban-korbannya. Sumur tua Cigrok ini terletak di belakang rumah To Teruno, seorang warga yang sebenarnya bukan orang PKI. Justru dialah yang melaporkan kegiatan PKI di sumurnya itu kepada Kepala Desanya. Muslim, seorang santri, menjadi saksi kebiadaban PKI dalam melakukan pembantaian di sumur tua itu. Muslim menceritakan pada malam terjadinya penjagalan itu, semua orang tak berani keluar rumah. Malam itu, dia mendengar suara bentakan Surat, pimpinan PKI yang berasal dari Desa Petungredjo. Dia juga mendengar suara orang menjerit histeris karena dianiaya. Muslim, yang diam-diam mengintip melalui lubang rumahnya, melihat gerak-gerik orang-orang PKI itu dalam keremangan malam. (Tim Penyusun Jawa Pos: 1990)

Muslim dapat mengenali salah satu korban yang mengumandangkan azan dari dalam sumur. Suara itu, menurutnya adalah suara K.H. Imam Sofwan dari Pesantren Kebonsari. Pembantaian oleh PKI di sumur Cigrok itu tak dilakukan dengan senapan atau Klewang, akan tetapi dengan pentungan. Para tawanan dengan tangan terikat dihadapkan ke arah timur sumur satu demi satu. Kemudian, seorang algojo PKI menghantamkan pentungan ke bagian belakang tiap tawanan tersebut. Ada tawanan yang segera setelah dihantam langsung menjerit dan roboh ke dalam sumur. Tetapi ada pula yang setelah dihantam, masih kuat merangkak sambil melolong-lolong kesakitan. Tangan mereka menggapai-gapai mencari pegangan. Melihat para korban merangkak seperti itu, orang-orang PKI kemudian menyeret begitu saja dan memasukkan mereka hidup-hidup ke dalam sumur. Orang-orang PKI yang melihat bahwa ternyata ada korban yang masih hidup di dalam sumur, sama sekali tak peduli. Mereka lantas menimbuni sumur tersebut dengan jerami, batu, dan tanah.

Teror Berdarah

Pada 24 September 1948, Kampung Kauman diserbu massa PKI. Aksi bumi hangus Kampung Kauman itu memusnahkan tak kurang dari 72 rumah, dan sekitar 149 laki-laki digiring ke Maospati. Dari Maospati seluruh tawanan dimasukkan ke dalam gudang pabrik rokok, kemudian diangkut dengan lori milik pabrik gula ke kawasan Glodok. Parto Mandjojo, salah seorang korban yang digiring menceritakan, “Dari glodok kami dipindahkan ke Geneng dan Keniten. Tetapi sebelum disembelih, kami berhasil diselamatkan oleh tentara Siliwangi,” (Tim Penyusun Jawa Pos: 1990)

Pembakaran Kampung Kauman pada dasarnya merupakan bagian dari aksi PKI untuk memberangus pengaruh agama Islam di tengah masyarakat. Sebab, sebelum aksi pembakaran itu, Madrasah Pesantren Takeran juga telah dibakar, beberapa saat setelah Kiai Imam Mursjid ditawan. Pesantren Burikan pun tak luput dari serbuan PKI. Kemudian para tokoh pesantren seperti Kiai Kenang, Kiai Malik, dan Muljono dibantai di Batokan. Korban lain dari kalangan ulama yang dibantai oleh PKI adalah keluarga Pesantren Kebonsari, Madiun. (Tim Penyusun Jawa Pos: 1990)

Di Trenggalek, PKI juga melancarkan terornya. Mereka menyiapkan belasan jerigen bahan bakar serta telah menempatkan dinamit di bawah seluruh tiang Masjid Agung Trenggalek yang siap diledakkan. Namun Imam Masjid tersebut, K.H. Yunus tak beranjak dari mihrab tempat suci itu. Jam 12 malam, dia diseret ke luar masjid dan dicampakkan ke halaman oleh PKI. Setelah itu, masjid bersejarah itu lalu dibakar dan diledakkan sampai musnah rata dengan tanah. (Tim Penyusun Jawa Pos: 1990)

Musso dan Amir sebenarnya tidak sedang berada di Madiun. Mereka sedang berkeliling untuk melakukan agitasi kepada masyarakat. Pemberontakan Madiun malam itu tampaknya di luar pengetahuan Musso. Petinggi PKI-FDR memang merencanakan aksi non parlementer dan militer, termasuk melakukan pemberontakan. Rencana itu tertuang dalam dokumen “Menginjak Mingkatan Perjuangan Militer Baru.” Meski begitu dalam rencana mereka,  waktunya tidak secepat itu. Tampaknya kekalahan di Solo menjadi pemicu Soemarsono untuk mendeklarasikan pemberontakan tersebut. Musso-Amir akhirnya memilih untuk turut serta dalam ‘Negara Madiun’ tersebut. Perang pernyataan lewat pidato radio, menandai kebijakan pemerintah untuk memerangi pemberontakan Madiun. (Himawan: 1994)

Akhir Petualangan Musso dkk

Akhir pemberontakan Madiun ditandai dengan tewasnya Musso dan ditangkapnya Amir Sjarifuddin yang kemudian dieksekusi mati oleh tentara Republik Indonesia. Pendukung dan anggota PKI lainnya menyebar, menyembunyikan diri. Namun hal ini bukanlah akhir dari ‘perlawanan’ PKI terhadap narasi peristiwa Madiun 1948. Kelak pemberontakan Madiun 1948 disangkal sebagai pemberontakan. Aidit yang beberapa tahun kemudian memegang kendali PKI, mengatakan bahwa Pemberontakan Madiun adalah upaya pembelaan diri. Aidit mengatakan,

“…Kawan Musso pada waktu itu tidak memberi komando kepada kami supaja ber-dujun2 datang kepada alat2 pemerintah Hatta-Sukiman-Natsir menjerahkan batangleher untuk dipantjung atau menjerahkan diri untuk ditembak. Tidak, Kawan Musso memberi komando kepada kami kaum komunis untuk mengadakan perlawanan jang gagah berani. Kami tidak menjerah dan tidak minta ampun, karena kami tidak bersalah.”(Aidit: 1964)

Bagi Aidit dan PKI, yang menjadi biang keladi Pemberontakan Madiun adalah Pemerintahan Hatta dan Masyumi,

“Dengan ini mendjadi djelas, bahwa memang benar dalam peristiwa Madiun tangan Hatta-Sukiman-Natsir cs. berlumuran darah,” (Aidit: 1964)

Soemarsono, yang pada pemberontakan Madiun menjadi Gubernur Militer di Madiun, puluhan tahun kemudian menyatakan hal yang serupa,

“Saya menolak istilah pemberontakan untuk menyebut peristiwa yang terjadi di Madiun itu. Kami tidak berinisiatif untuk terlibat dalam bentrokan. Kami hanya membela diri.” (Aidit: 1964)

Pemberontakan PKI di Madiun 1948, memang dibelit konflik politik, namun jika memang itu adalah persoalan provokasi, seperti yang dituding Aidit, mengapa umat Islam khususnya Kiai dan santri, serta pesantren mereka turut dihabisi secara sistematis oleh PKI-FDR? Pada akhirnya, mengenai pembantaian terhadap Kiai dan santri, Aidit ‘hanya’ menjawab,

“Ini adalah di-lebih2-kan dan ini adalah pemutarbalikan kenjataan. Kekedjaman jang tidak ada taranja bukan mulai dengan apa jang dinamakan ‘Kaum Komunis berhasil merebut kekuasaan di Madiun’, tetapi dimulai dengan pembunuhan setjara terror terhadap colonel Sutarto dan pentjulikan serta pembunuhan terhadap 5 perwira TNI di Solo.” (Aidit: 1964)

Penulis: Beggy Rizkiyansyah – Penggiat Jejak Islam untuk Bangsa

Share:

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on pinterest

Update Artikel Terbaru

Dapatkan beragam artikel sejarah yang renyah dibaca namun ditulis secara mendalam

ARTIKEL TERKAIT
%d blogger menyukai ini: