Peradaban Islam Masa Lampau, Sebuah Era Keemasan

Bayt Al-Hayat
Bayt Al-Hayat, Bagdad

Jika kita flashback ke masa sepuluh abad silam sembari menelusuri kota-kota dunia Islam dan kota-kota dunia Barat, maka akan kita temukan perbedaan yang sangat kontras antara kedua belahan dunia tersebut. Kita akan menyaksikan zaman keemasan peradaban Islam.

Di dunia Islam kita akan melihat jelas tanda-tanda kehidupan, kemajuan dan tingginya peradaban. Sedangkan di belahan dunia lain kita hanya akan mendapati keadaan dunia yang primitif, jauh dari tanda-tanda kehidupan, ilmu pengetahuan dan tenggelam dalam lautan kemunduran peradaban yakni dunia Barat.

Raghib as-Sirjani dalam bukunya Sumbangan Peradaban Islam pada Dunia menjelaskan bagaimana keadaan dunia Barat pada saat itu, seperti Inggris Anglo-Saxon. Di abad ke-7 M sampai abad ke-10 M, Inggris hanyalah negeri tandus, terisolir, kumuh dan liar. Rumah-rumah tak dibangun dengan sempurna, tetapi dengan batu kasar. Dindingnya tak dipoles dengan tanah halus. Rumah-rumahnya berada di dataran rendah, pintunya sempit, tidak terkunci kokoh dan tak ada fentilasi atau jendela.

Dunia Islam vs Barat

Saat itu Eropa tak ubahnya hutan belantara. Terbelakang dalam sistem pertanian. Aroma busuk menyebar dari rawa-rawa pinggiran kota. Kayu dan tanah yang dicampur dengan jerami dan bambu merupakan bahan utama pembuatan rumah-rumah di Paris dan London. Rumah-rumah itu tidak memiliki kamar-kamar yang tersusun rapi dan tidak berventilasi. Mereka sama sekali belum mengenal permadani. Tak ada tikar, kecuali jerami-jerami yang ditebarkan di tanah sebagai alas.

Bagaimana dengan dunia Islam? Mari telusuri salah satu saja dari kota besar Islam yaitu Baghdad untuk mengetahui bagaimana keadaaan kota ini dan bagaimana peradabannya.

Baghdad. Sebelum Khalifah Al-Mansur membangun kota itu, ia hanya merupakan kota yang terletak di daerah yang sempit lagi kecil. Untuk menyulap kota itu, Khalifah mendatangkan para arsitek terbaik, pakar ilmu ukur dan insinyur teknik. Sang Khalifah sendiri pula yang meletakkan batu pertama pembangunan kota tersebut. Untuk membangun kota seribu malam itu ia membelanjakan tak kurang dari 4.800.000 dan mengerahkan 100.000 orang pekerja.

Baghdad memiliki tiga lapis tembok besar dan kecil mencapai 6.000 buah di bagian timur dan 4.000 buah di bagian barat. Selain sungai Tigris dan Efrat, ada 11 sungai cabang yang airnya mengalir ke seluruh rumah dan istana Baghdad.

Terdapat 30.000 jembatan di sungai Tigris. Pemandian umum pun jumlahnya mencapai 60.000 buah. Namun pada akhir masa pemerintahan Abbasiyah jumlah ini berkurang menjadi hanya beberapa puluh ribu buah. Masjid-masjid mencapai 300.000 buah, di samping itu juga mayoritas para penduduk Baghdad merupakan para cendekiawan, filsuf dan sastrawan yang tak terhitung jumlahnya. (Raghib as-Sirjani 2012 hal. V-Viii)

Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

Bisa dikatakan bahwa era keemasan dunia Islam adalah pada masa Daulah Abbasiyyah, karena pada saat itulah umat Islam berada dalam puncak kemajuan peradabannya.  Baik dari sisi kekayaan, bidang ekonomi, kekuasaan, politik, terlebih lagi dalam bidang kebudayaan dan ilmu pengetahuan, baik pengetahuan  agama maupun pengetahuan umum yang mengalami kemajuan yang sangat pesat. Pada saat itu pula telah lahir berbagai disiplin ilmu. Di antara faktor terpenting terwujudnya hal ini antara lain:

Pertama, antusias dan perhatian yang besar dari para penguasa Islam terhadap ilmu. Hal ini terlihat dari gencarnya penerjemahan buku-buku berbahasa asing ke dalam bahasa Arab seperti buku-buku Yunani, Mesir, Persia, India dan lain-lain. Buku-buku yang diterjemahkan antara lain: Filsafat Al Jabar, Ilmu Falak, Matematika, Ilmu kedokteran, Kimia, Ilmu Alam, Mantiq (logika), Seni dan lain-lain.  Selain itu juga kaum muslimin mengambil andil dan turut serta dalam penelitian dan pengkajian. 

Pada umumnya, kegiatan penerjemahan dan  penelitian tersebut dilakukan pada masa pemerintahan Abu Ja’far, Harun Al Rasyid, Al Makmun dan Mahdi. Terlebih pada masa pemerintahan khalifah ketiga dari kekhalifahan daulah Abbasiyah yaitu Harun Al Rasyid, beliau dikenal memiliki perhatian yang sangat besar dalam memajukan ilmu pengetahuan. Di antara bukti yang menunjukkan hal tersebut yaitu pada masa pemerintahannya didirikanlah lembaga ilmu pengetahuan yang diberi nama “Baitul Hikmah” sebagai pusat penerjemahan penelitian dan pengkajian ilmu perpustakaan serta lembaga pendidikan (Perguruan Tinggi).

Baca juga: Al-Makmun, Khalifah Pelopor Kemajuan Sains Islam

Dari Baitul Hikmah inilah kaum muslimin dapat mempelajari berbagai disiplin ilmu dalam bahasa Arab. Dari sana pula lah lahir cendekiawan-cendekiawan besar muslim dari berbagai disiplin ilmu yang sangat terkenal juga ulama-ulama besar yang sangat tersohor seperti halnya iman keempat imam mazhab, Imam Bukhari dan imam muslim dan lain-lain. Kemajuan demikian tidak lain karena kepemimpinan dijalankan oleh para khalifah/Sultan yang mempunyai kharisma, professional disamping kaum muslim juga mempunyai kesadaran yang tinggi dalam memperjuangkan islam ke tempat yang paling atas. Akhirnya terjadilah perpaduan yang sangat menguntungkan bagi perkembangan peradaban Islam.

Kedua, Kebebasan berpikir dan berpendapat. Hal ini bisa dilihat kepada sikap para khalifah Abbasiyah yang membuka pintu seluas-luasnya bagi para ulama untuk berijtihad yang berpengaruh besar dalam metode pembelajaran fiqih bagi kaum muslimin, memperbaharui analisa syariat bagi permasalahan yang tidak memungkinkan pandangan di masa awal permulaan Islam. Begitulah seorang muslim berpegang teguh pada kejelian akal dan pikirannya dalam menghadapi permasalahan-permasalahan yang pelik dari permasalahan agama dan dunia. Tidak terdapat sumber nash syariatnya, yaitu lebih mengokohkan pijakan akal yang begitu kuat dalam Islam. Ini pijakan yang kedudukannya sangat urgen, dibangun dan diletakkan oleh peradaban kaum yang memesona dalam tinta emas sejarah Islam. (Mahmud Hamdi Zaghzuq 1432 H)

Di antara ciri khas terpenting dari peradaban umat Islam pada masa kejayaannya yaitu peradaban yang dibangun di atas ilmu pengetahuan.  Dan semua itu terwujud tidak lepas dari sikap antusias yang tinggi dari para penguasa terhadap ilmu pengetahuan dan pemberian hak kebebasan berfikir dan berijtihad bagi para cendekiawan muslim. 

Penulis: Nofriyanto  al-Minangkabawy

Share:

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on pinterest

Update Artikel Terbaru

Dapatkan beragam artikel sejarah yang renyah dibaca namun ditulis secara mendalam

ARTIKEL TERKAIT
%d blogger menyukai ini: