Pocut Baren, Srikandi Pejuang Aceh yang Luput dari Ingatan

Pocut Baren Bersama Pasukannya
Pocut Baren Bersama Pasukannya

Setelah Belanda menangkap Cut Nyak Dhien dalam sebuah penyerbuan mendadak pada 1905, perlawanan rakyat Aceh diteruskan srikandi Aceh lainnya, Pocut Baren. Nama besarnya sering luput dari catatan sejarah.

Pocut Baren lahir pada tahun 1880. Ayahnya, Teuku Cut Ahmad, seorang uleebalang (pemimpin satu kabupaten yang dijabat oleh seorang bangsawan) di wilayah Tungkop, Aceh Barat. Nama Pocut disematkan padanya karena darah bangsawan yang mengalir dalam tubuhnya. Meski keturunan bangsawan, laku hidupnya sangat merakyat hingga kelak ia dikenal sebagai pejuang perempuan Aceh.

Muhammad Ali Hasjmy dalam bukunya Wanita Aceh Dalam Pemerintahan dan Peperangan, mencatat saat berusia tujuh hingga empat belas tahun, ia selalu mengikuti ayahnya dalam berbagai peperangan di Aceh Barat. Bau asap mesiu, dentuman meriam maupun gemerincing kelewang tak asing bagi Pocut Baren di usianya yang masih remaja.

Pocut Baren (Foto: Wikipedia)

Selama hidupnya, Pocut bersuamikan seorang uleebalang di daerah Geume, yang juga Panglima Perang di Woyla. Sebagaimana pejuang perempuan Aceh lainnya, setelah suaminya syahid, ia menggantikan kedudukan suaminya sebagai uleebalang maupun panglima perang. Pada saat suaminya syahid, ia masih berusia 18 tahun dan terus melakukan perlawanan terhadap Belanda. Sungguh, seorang inong balee (janda) yang luar biasa tangguh dan tidak kenal putus asa.

Bergerilya di Gunung

Wilayah Aceh yang begitu banyak hutan dan bukit dimanfaatkan dengan baik oleh Pocut Baren. Di Gua Gunong (gunung) Macang, bersama pasukannya Pocut membangun sebuah benteng sebagai markas untuk mengatur strategi maupun melakukan gerilya. A. Hasjmy, masih dalam buku yang sama menerangkan, setiap kali penjajah Belanda melewati wilayah markasnya, mereka terpaksa kembali dengan membawa mayat serdadunya yang tewas oleh serangan pasukan Pocut Baren.

Atas perintah Kapten Heldens, Letnan Scheuler dari kesatuan Kuala Batee, Meulaboh, pasukan Belanda berkali-kali menyerang markas Pocut Baren di Gunong Macang, tetapi selalu menemui kegagalan. Sampai-sampai Belanda harus mendatangkan bala bantuan dari Meulaboh, Kutaraja bahkan dari luar Aceh seperti Tanjung Priuk, untuk melakukan blokade dan mengepung gua Gunong Macang.

Tatkala pengepungan itulah Pocut berhasil membebaskan diri dari blokade dan ia bergerak mengumpulkan tenaga untuk menyerang pasukan Belanda yang dinamakan Divisi Marsose. Sementara itu, setelah mendapat persetujuan dari pimpinannya di Kutaraja, Letnan Scheuler berhasil membakar Gunong Macang dengan 2000 liter minyak tanah sehingga Gunong Macang merah membara.

Pembakaran tersebut memakan banyak korban meninggal, baik dari pasukan Pocut Baren maupun dari pasukan penjajah Belanda yang terjebak dalam gua. Termasuk yang syahid di antaranya adalah ayah Pocut , Teuku Cut Ahmad. Sementara, Pocut dan pasukannya yang tersisa berhasil menyelamatkan diri setelah dapat menerobos pasukan penjajah Belanda yang menjaga pintu gua, melalui suatu pertempuran yang begitu dahsyat.

Setelah selamat dari pembakaran itu Pocut langsung menyusun kekuatan lagi. Ia pun berkonsultasi dan bermusyawarah dengan para panglima dan pang-pangnya, merencanakan strategi perang berikutnya untuk mengepung bivak Belanda di Tanoh Mirah dan Kuala Bee. Tidak hanya itu, ia juga membangun kubu pertahanan baru bersama pasukannya yang tersisa. Setelah bermusyawarah merencanakan strategi perang, maka mereka langsung berangkat menuju Bivak, Tanoh Mirah.

Namun, tanpa sepengetahuan Pocut Bareng dan pasukannya, mata-mata Belanda telah mengetahui rencana penyerangan tersebut dan segera melaporkan pada induk pasukannya di bivak, Tanoh Mirah. Begitu mendapat laporan, Letnan Scheuler langsung merancang strategi dengan sangat hati-hati. Ia tidak mau gagal lagi untuk kesekian kali. Ia atur satu brigadenya untuk mencegat Pocut Baren dan para pejuang lainnya, agar tidak langsung mendatangi benteng. Oleh karenanya, ia juga menyuruh satu brigade yang telah diperkuat dengan pasukan dari Meulaboh, Kutaraja dan Betawi, berperang di luar benteng, dengan tujuan untuk melindungi keluarga para serdadu yang berada di dalam Bivak.

Tertangkap dalam Sebuah Penyerbuan

Pada malam menjelang Subuh, Pocut bersama para pasukannya menyerang dan mengepung bivak, Tanoh Mirah. Terjadilah pertempuran sengit. Pocut Baren sebagai Panglima Besar memegang sendiri komando barisan depan, dapat dibayangkan betapa heroiknya perjuangan dan ketangguhan Inong Balee yang satu ini.

“Duaaarr!!”, Brigade Letnan Hoogers melepaskan tembakan panjang saat keluar dari satu pintu bivak. Perempuan tangguh itu pun lumpuh seketika. Rupanya tembakan tersebut mengenai kakinya. Dalam keadaan terluka parah, Letnan Hoogers langsung dapat menawan sang gerilyawan dan membawanya ke Kuala Bee, setelah itu dipindahkan ke Meulaboh. Mungkin, inilah musibah terbesar yang dialami Pocut Baren bersama pasukannya.

Pocut akhirnya dibawa ke Kutaraja dengan kapal perang. Kakinya harus dipotong karena parahnya luka dan tiadanya perawatan yang baik. Tertangkapnya pejuang perempuan Aceh ini tak membuat sisa-sisa pasukannya menyerah. Mereka terus melakukan perang gerilya terhadap penjajah Belanda. Kali ini, pasukan perang gerilya dipimpin oleh Teuku Tengoh, yang merupakan saudara Pocut.

Gubernur Militer Aceh saat itu, Jenderal van Daalen menetapkan untuk membuangnya ke Pulau Jawa, seperti nasib Cut Nya Dhien. Namun ketetapan tersebut segera dapat dicegah oleh seorang Perwira Belanda, Kapten Veltman, yang memberi saran agar Jenderal van Daalen tidak membuang Pocut ke luar Aceh untuk mencegah bertambahnya kemarahan rakyat Aceh dan semangat perang semakin menyala. Saran ini dikeluarkan Veltman karena ia telah lama mempelajari adat istiadat Aceh, termasuk karakter orang-orang Aceh. Akhirnya, Jenderal van Daalen mendengar saran tersebut dan tidak jadi membuang Pocut Baren ke Pulau Jawa.

Dalam penahannya, dalam kondisi kaki tinggal sebalah, pejuang Aceh yang tangguh ini terus melakukan perlawanan, meskipun tidak lagi di medan perang. Melalui syair-syair perjuangannya, Pocut membakar semangat rakyat Aceh untuk terus berjuang membebaskan Aceh dari penjajahan.

Pada 1933, Pocut Baren akhirnya wafat dalam usia 53 tahun sebagai perempuan yang terhormat. Salah satu Srikandi Aceh ini dimakamkan di kampung halamannya, Kemukiman Tungkop, Kecamatan Sungai Mas, Kabupaten Aceh Barat.

Ya Tuhanku Rabbi Djalil…

Kerdja belum selesai paha binasa

Tetapkan iman dalam hatiku

Djangan djadi kafir diachir masa

(Syair Pocut Baren dalam buku HM. Zainuddin, Srikandi Aceh, hlm. 124)

Baca Juga: Sejarah Hijab

Penulis: Sarah Matovani

Share:

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on pinterest

Update Artikel Terbaru

Dapatkan beragam artikel sejarah yang renyah dibaca namun ditulis secara mendalam

ARTIKEL TERKAIT
%d blogger menyukai ini: