Resolusi Jihad Kiai Hasyim

Teks Resolusi Jihad
Teks Resolusi Jihad

Resolusi Jihad menjadi titik penting dalam sejarah mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang saat itu baru seumur jagung.

Hari itu, pada Oktober yang menegangkan, Bung Karno sowan ke Pesantren Tebu Ireng Jombang. 

Kiai, dospundi niki, Inggris dugi,” tanya Bung Karno dalam Bahasa Jawa, yang artinya; Kiai, bagaimana ini, Inggris datang. “Bagaimana umat Islam menyikapinya?” lanjut Bung Karno.

“Lho, Bung, umat Islam siap jihad fisabilillah untuk RI,” jawab Kiai Hasyim Asy’ari tanpa basa-basi. 

Oktober itu, hanya berselang 2 bulan setelah Soekarno-Hatta atas nama Bangsa Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya, ancaman kembalinya Belanda memang sangat kentara. Dalam berbagai kesempatan, Belanda secara tegas menyatakan tak mengakui kedaulatan RI. Jadi, pantaslah jika Bung Karno gusar. Datangnya Sang Proklamator kepada pendiri NU itu tak lain untuk meminta petunjuk, apa yang seharusnya dilakukan rakyat, khususnya umat Islam.

Kabar bakal mendaratnya Sekutu yang diboncengi NICA (Netherlands Indies Civil Administration) segera direspon para ulama. Pada 21 Oktober 1945, KH. Hasyim Asyari mengundang konsul-konsul NU seluruh Jawa dan Madura di kantor PB ANO (Ansor Nahdlatoel Oelama) di Jalan Bubutan, Surabaya. Musyawarah yang dipimpin langsung KH. Hasyim Asyari dan KH. Wahab Hasbullah tersebut menghasilkan rumusan Resolusi Jihad. 

Berperang menolak dan melawan pendjadjah itoe Fardloe ‘ain (jang haroes dikerdjakan oleh tiap-tiap orang Islam, laki-laki, perempoean, anak-anak, bersendjata ataoe tidak) bagi jang berada dalam djarak lingkaran 94 km dari tempat masoek dan kedoedoekan moesoeh. Bagi orang-orang jang berada di loear djarak lingkaran tadi, kewadjiban itu djadi fardloe kifajah (jang tjoekoep, kalaoe dikerdjakan sebagian sadja..” (Resolusi Jihad, 22 Oktober 1945)

Dokumen resolusi bersejarah itu ditulis dalam huruf Arab-Jawa (pegon) ditandatangani oleh KH. Hasyim Asy’ari segera menyebar ke seluruh pesantren dan laskar rakyat seperti Hizbullah dan Sabilillah. Hanya berselang 3 hari kemudian, 6000 tentara Sekutu mendarat di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya.

Gelora Revolusi Jihad

Resolusi Jihad yang salah satu poinnya menjamin bahwa warga negara Indonesia yang gugur dalam peperangan melawan penjajah dihukumi sebagai syahid, telah memompa semangat perlawanan rakyat. Pertempuran dahsyat pertama berlangsung dari 27 Oktober hingga 29 Oktober 1945. Sungguh di luar perkiraan, dengan senjata apa adanya, Arek-arek Suroboyo mampu menahan serangan bala tentara Sekutu yang bersenjata canggih lagi lengkap.

Sumber: Koran Kedaulatan Rakyat, Oktober 1945

Tewasnya Jenderal Mallaby, orang nomor satu pihak Sekutu di Surabaya pada 30 Oktober 1945, membuat Sekutu semakin gelap mata. Mereka mengultimatum agar laskar pejuang dan tentara Indonesia menyerahkan senjata paling lambat 10 November 1945. Jika tidak, Surabaya akan dibumi-hanguskan. Ultimatum tersebut dijawab oleh Arek-arek Suroboyo melalui pidato Bung Tomo yang terkenal itu. Inti pidato tersebut selaras dengan Resolusi Jihad NU; berjihad melawan penjajah. 

Baca juga: Surabaya, Hari-Hari Genting Sebelum 10 November 1945

Ancaman Sekutu akhirnya benar-benar dilaksanakan. Pada 10 November 1945, dari arah laut, darat dan udara, berlontaran bom-bom Sekutu yang memorak-porandakan Kota Surabaya. Dengan senjata seadanya, laskar-laskar pejuang terus melawan. Sesumbar Sekutu untuk menguasai Surabaya dalam 3 hari tak terbukti. Bahkan pada 11 November 1945, Sekutu kembali kehilangan Jenderal Robert Madison, pengganti Mallaby. 

Peristiwa 10 November yang kemudian diperingati sebagai Hari Pahlawan, tak dapat dielakkan lagi dijiwai oleh Resolusi Jihad yang digagas KH. Hasyim Asyari dan ulama-ulama NU, yaitu berperang di jalan Allah. Jihad fisabilillah.

Share:

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on pinterest

Update Artikel Terbaru

Dapatkan beragam artikel sejarah yang renyah dibaca namun ditulis secara mendalam

ARTIKEL TERKAIT
%d blogger menyukai ini: