Sejarah Berdarah Komunis di Dunia

Seorang dengan simbol komunisme
Seorang dengan simbol komunisme

Apa yang menjadi alasan penolakan terhadap ideologi Komunisme? Bagi penyair dan budayawan seperti Taufiq Ismail, tak perlu bersusah payah menjelaskan kebatilan ideologi mereka, karena deretan angka dari fakta sejarah yang terbentang di berbagai belahan dunia berikut ini, dapat membuka mata kita semua tentang betapa kejamnya kelompok Palu Arit tersebut. Taufik membeberkan data:

  • 500.000 rakyat Rusia dibantai Lenin (1917-1923)
  • 6 juta petani kulak di Rusia dibantai Stalin (1929)
  • 40 juta rakyat Rusia dibantai Stalin (1925-1953)
  • 50 juta penduduk Republik Rakyat Cina dibantai Mao Tse Tung (1940-1976)
  • 2,5 juta rakyat Kamboja dibantai Pol Pot (1975-1979)
  • 1 juta rakyat Eropa Timur berbagai negara dibantai rezim Komunis setempat dibantu Rusia Soviet (1950-an-1980-an)
  • 150.000 rakyat Amerika Latin dibantai rezim Komunis setempat (idem)
  • 1,7 juta rakyat di berbagai negara Afrika dibantai rezim Komunis setempat (idem)
  • 1,5 juta rakyat Afghanistan dibantai Najibullah (1978-1987)

Menurut Taufik, jika data-data kekejaman Partai Komunis sedunia dalam kurun waktu (1917-1991) itu direkonstruksi dalam kerangka waktu, tahun, tempat, dan jumlah korban, maka kekejaman Komunisme akan terbaca:

Poster tokoh komunis dunia
  • Membantai 100 juta manusia di 76 negara
  • 1.350.00 orang dalam setahun
  • 3.702 orang dalam sehari
  • 154 orang perjam
  • 2,5 permenit
  • 24 detik per orang

(Lihat: Taufiq Ismail, Katastrofi Mendunia: Marxisma, Leninisma, Stalinisma, Maoisma, Narkoba, Jakarta: Yayasan Titik Infinitum, 2004, hlm.5-6)

Data statistik kekejaman Komunis itu disebut oleh Taufik Ismail sebagai “Katastrofi Mendunia” (Bencana yang Mendunia), karena apa yang dilakukan oleh rezim Palu Arit di berbagai belahan dunia tersebut adalah penghancuran terhadap agama dan kemanusiaan. Politik menghalalkan segala cara yang dilakukan oleh kaum Komunis menghasilkan perebutan kekuasaan yang chaos dan berdarah-darah.

Upaya merebut kekuasaan yang dilakukan oleh mereka, yang mengatasnamakan “Revolusi Kaum Proletar” untuk menumbangkan kaum borjuis (para pemilik modal, tuan tanah, elit kapitalis, dll), kemudian justru melahirkan “diktator proletariat”. Karena, politik mereka dibangun dengan dasar “pertentangan kelas”, yang kemudian menjadi seperti mata rantai yang tak pernah putus dalam upaya saling berebut kekuasaan. Kekuasaan yang dianggap “borjuis” tumbang, lalu muncul diktator baru dari kaum “proletar”. Itulah fakta yang terjadi.

Tiga Kali Memberontak

Dalam sejarah bangsa ini, tercatat tiga kali Partai Komunis Indonesia (PKI) berupaya melakukan aksi pemberontakan berdarah.

Pertama, pada tahun 1926-1927, ketika Indonesia masih bernama Hindia Belanda. Geliat pemberontakan ini bahkan tak hanya terjadi di Jawa, namun juga di Sumatera Barat. Pemberontakan Komunis di Singkawang, Sumatera Barat, pada era ini termasuk yang menjadi catatan kelam sejarah Indonesia. Komunis Internasional (Komintern), di bawah mentor Trotsky, ikut terlibat dan membantu di balik layar aksi pemberontakan tersebut, yang berakibat pada pengawasan yang begitu ketat oleh pemerintah Hindia Belanda terhadap organisasi-organisasi yang ada ketika itu. Pemberontakan pada tahun 1926 sebenarnya tidak dikehendaki oleh tokoh Komunis Internasional, Joseph Stalin. Namun karena para aktivis PKI sudah ingin segera merebut kedaulatan pemerintah, aksi tersebut tetap dilakukan.

Jika merujuk pada Revolusi Bolshevik yang terjadi pada 1917 dan berhasil menumbangkan kekuasaan Tsar II, maka pemberontakan yang dilakukan di Hindia Belanda terjadi setelah 10 tahun revolusi tersebut. Itupun, sebelumnya sudah ada pra-kondisi, di mana kader-kader Komunis di Hindia Belanda melakukan penyusupan di organisasi-organisasi pergerakan, termasuk menyusup di Sarekat Islam.

Revolusi Bolshevik sendiri berhasil membuat sebuah federasi di bawah kepemimpinan Lenin, yang terdiri dari Rusia, Liithuania, Latvia, Belarusia, Ukraina, Armenia, Georgia, dan Estonia. Mereka disatukan di bawah kekuasaan Partai Komunis Uni Soviet, setelah sebelumnya Lenin mengganti Rusia menjadi Uni Soviet.

Kedua, pemberontakan pada tahun 1948, yang dikenal dengan Peristiwa Madiun. Tokoh PKI, Muso, menjadi aktor di balik aksi pemberontakan yang menyebabkan banyak nyawa umat Islam melayang pada saat itu. Muso adalah kader PKI yang pada pemberontakan tahun 1926 kabur ke Soviet. Di negeri Beruang Merah itu, Muso dikader oleh Stalin selama 22 tahun. Pulang ke Indonesia pada 11 Agustus 1945. Lalu memproklamirkan Negara Soviet Indonesia pada 18 September 1948. Ketiga, pemberontakan yang dilakukan pada tahun 1965, dimana tujuh jenderal revolusi dibantai secara biadab dalam lubang-lubang pembantaian yang sudah mereka siapkan.

Pada tahun 1965 ini pula, sebelumnya umat Islam dikejutkan dengan peristiwa yang terjadi di desa Kanigoro, Kecamatan Keras, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Tragedi berdarah yang dikenal dengan sebutan Peristiwa Kanigoro itu terjadi pada bulan Ramadhan tahun 1385 Hijriyah atau 13 Januari 1965. Saat itu, di subuh hari yang dingin, para jagal Komunis dengan senjata tajam menyerbu acara pelatihan Pelajar Islam Indonesia (PII). Korban berjatuhan dibunuh secara sadis.

Perjalanan sejarah Komunisme Internasional yang berdarah-darah dalam upaya perebutan kekuasaan atau mengambilalih kekuasaan, adalah cermin bahwa sistem yang mereka bangun hanyalah menciptakan mata rantai kekacauan (chaos) yang tak pernah putus.

Ketika Uni Soviet runtuh pada tahun 1991, setelah sebelumnya Perang Dingin antara Blok Barat (Amerika) dan Blok Timur (Soviet) berlangsung dengan sengit pada kurun waktu 1947-1991, maka dunia dihadapkan pada kenyataan bahwa era kekuasaan rezim Komunisme yang berpengaruh bagi rezim-rezim Komunis lainnya di berbagai belahan dunia, mengalami keterpurukan ke jurang yang dalam.

Di Indonesia, Presiden Soekarno menggali lubang kubur bagi kekuasaannya juga setelah menjalin hubungan yang erat dengan Partai Komunis Indonesia. Pada masa-masa itu, Komunisme Internasional memang melakukan tebar jaring di bawah Komando Uni Soviet dan Republik Rakyat Cina (RCC) untuk menggarap wilayah-wilayah di berbagai belahan dunia agar mengikuti agenda politik mereka.

Komunisme Internasional melakukan strategi pocket army di setiap negara, dengan menyusupkan agen-agen komunis di tubuh tentara nasional negara bersangkutan yang bertugas untuk kepentingan Komintern, atau mempersenjatai rakyat untuk tujuan politik mereka. (Lihat: R.Z Leirissa, PRRI Permesta Strategi Membangun Indonesia Tanpa Komunis, Jakarta:Pustaka Grafiti,  1991, hlm. 24)

Sekali lagi, upaya Soekarno merangkul Partai Komunis Indonesia, bahkan memasukkannya dalam kabinet, adalah kecelakaan sejarah yang berujung tragis pada akhir kekuasaannya.

Penulis: Artawijaya

Share:

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on pinterest

Update Artikel Terbaru

Dapatkan beragam artikel sejarah yang renyah dibaca namun ditulis secara mendalam

ARTIKEL TERKAIT
%d blogger menyukai ini: