Sejarah Hijab: Riwayat Secarik Kain Penutup Aurat

Hijab Zaman Dulu
Hijab Zaman Dulu

Berdasarkan catatan sejarah, hijab sudah dikenal sejak berabad-abad lampau. Di beberapa negara Islam, pakaian sejenis hijab dikenal dalam banyak istilah, seperti chador di Iran, pardeh di India dan Pakistan, milayat di Libya, abaya di Irak, charshaf di Turki, dan hijâb di beberapa negara Arab-Afrika seperti di Mesir, Sudan, dan Yaman. 

Tak hanya Islam, sebenarnya konsep hijab juga ada dalam khasanah agama-agama Samawi lainnya. Misalnya dalam kitab Taurat, kitab suci agama Yahudi, dikenal beberapa istilah yang semakna dengan hijab seperti tif’eret. Demikian pula dalam kitab Injil, ada istilah zammah, re’alah, zaif dan mitpahat yang bermakna kain penutup kepala. Bahkan, jauh sebelum hadirnya agama Sawami, hijab sudah menjadi wacana masyarakat Prasejarah seperti Mesopotamia, Babilonia, dan Asyiria. 

Dengan demikian hijab merupakan bagian dari khasanah agama-agama besar di dunia, baik berupa anjuran atau kewajiban. Akan halnya Islam, hijab sebagai penutup aurat menjadi perintah wajib bagi kaum Muslimah seperti termaktub dalam al-Qur’an surat An-Nuur Nur (24): 31. Dan entah sejak kapan, hijab tersingkir dari tradisi agama selain Islam. Dan akhirnya memang hanya Islam, yang konsisten merawat busana kehormatan bagi kaum perempuannya ini. 

Pada awal-awal abad Islam, hijab hanya dipahami sebagai perintah agama. Dengan kata lain, para muslimah pada awal-awal Islam mengenakan kain penutup aurat karena dorongan perintah Allah. hijab mengalami perkembangan fungsi—dari perintah agama menjadi mode—pada sekira abad 9-12,  setelah Islam berkembang ke luar Jazirah. Tak dapat dielakkan, akulturasi budaya berbagai bangsa turut mempengaruhi model hijab, misalnya di sebagian negara Timur-Tengah berkembang model cadar, burqa, niqop, dan masker. 

Hijab dalam Busana Kerajaan Islam Nusantara

Dalam foto-foto Indonesia lama, khususnya Jawa, tidak dijumpai model wanita berhijab seperti zaman sekarang, yang sempurna menutup kepala, melainkan sekadar selendang atau kain yang diselampirkan di atas kepala, dengan masih menampakkan rambut bagian depan dan sebagian leher. Sebagian berpendapat bahwa ini dipengaruhi oleh pola dakwah Wali Songo yang sangat toleran dengan budaya lokal. Pada waktu itu Wali Songo baru menyampaikan masalah akidah, belum sampai pada masalah fikih hijab.

Namun di lingkungan Kerajaan Islam Samudera Pasai Aceh, tampaknya sudah sejak lama hijab menjadi identitas Muslimah Serambi Makkah itu. Ini seperti tertampil dalam lukisan yang dibuat oleh pemerhati Sejarah Aceh sekaligus pelukis kelahiran Aceh Utara, Sayeed Dahlan Al Habsyi. Dalam lukisannya, ia menggambarkan Sulthanah Sri Ratu Safiatuddin Tajul Alam Shah Johan Berdaulat yang memerintah Kerajaan Aceh Darussalam pada tahun 1641-1675 dengan jilbab menutup kepala dan dahi. Kaum Paderi di Miangkabau juga pernah memberlakukan kewajiban berjilbab pada kaum Muslimah.

Potret-potret wanita berhijab lebih banyak lagi kita jumpai pada tahun 1900-an. Ini tak lepas dari peran para pejuang Muslimah seperti Hj. Rasuna Said, Nyai Ahmad Dahlan, juga Tjut Nya Dien yang menjadi figur Muslimah tulen pada zamannya. Bahkan dalam sebuah foto, Rahmah El Yunusiah (1900-1969), tokoh pembaharu pendidikan di Indonesia, tampak sempurna mengenakan hijab dari ujung kaki hingga kepala.  

Lautan Jilbab

Di Indonesia, khususnya, sejarah hijab atau sering disebut jilbab mengalami perkembangan signifikan sejak era 70-an. Kesadaran untuk mengenakan hijab secara syari mulai muncul seiring kehadiran sarjana-sarjana Muslim lulusan Timur-Tengah yang gencar mensosialisasikan jilbab yang sesuai syariat. Dalam sejarah-nya hijab sempat menjadi perhatian nasional pada era 80-an oleh kasus pelarangan pengenaan jilbab dalam instansi-instansi pemerintah dan sekolah. Pada 17 Maret 1982, Dirjen Pendidikan dan Menengah, Prof. Darji Darmodiharjo, SH., mengeluarkan SK 052/C/Kep/D.82 tentang Seragam Sekolah Nasional yang implementasinya berujung pada pelarangan jilbab di sekolah.

SK tersebut memantik amarah kaum Muslim di Indonesia. Berbagai demonstrasi, artikel media massa, ceramah-ceramah agama mengutuk pelarangan tersebut. Kasus ini bahkan mengundang simpati budayawan Emha Ainun Najib lewat sajaknya Lautan Jilbab, juga Taufiq Ismail menulis lirik lagu Aisyah Adinda Kita yang menggambarkan gadis berjilbab, dinyanyikan grup musik Bimbo. 

Gerakan menentang pelarangan hijab yang domotori seniman, budayawan dan tokoh-tokoh Islam, yang dikenal dengan Revolusi Jilbab tersebut akhirnya membuahkan hasil setelah sekira 10 tahun. Pada 1991, keluarlah SK Dirjen Dikdarmen No. 100/C/Kep/D/1991 untuk mencabut larangan tentang pemakaian jilbab sebelumnya oleh pemerintah pusat.

Sejarah hijab mengalami perkembangan pesat era 2000-an. Beragam mode, warna dan bentuk tampil di gerai-gerai dan butik busana muslim. Tak bisa dimungkiri, faktor publik figur seperti artis-artis nasional turut andil dalam memasyarakatkan jilbab sehingga menjadi ngetren seperti saat ini. Dari tren, hijab pun berkembang menjadi identitas sosial. Mengenakan hijab dengan merek tertentu, apalagi karya desainer ternama, seakan menjadi jaminan bagi seorang wanita untuk tidak disebut ketinggalan zaman. 

Perkembangan ini adalah tantangan bagi para desainer dan produsen busana muslim, untuk menghasilkan hijab dengan unsur seni tinggi tanpa meninggalkan kaidah syariat. Bagaimanapun, perkembangan ini harus dilihat dengan kaca mata positif, bahwa busana muslim mulai diterima masyarakat luas. 

Penulis: Md Aminudin

Baca juga: Al-Ma’mun, Khalifah Pelopor Kemajuan Sains Islam

Share:

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on pinterest

Update Artikel Terbaru

Dapatkan beragam artikel sejarah yang renyah dibaca namun ditulis secara mendalam

ARTIKEL TERKAIT
%d blogger menyukai ini: