Sejarah PKI (II): Dari Proklamasi Hingga Kembalinya Musso pada 1948

Musso Manowar, tokoh pemberontakan PKI Madiun
Musso Manowar, tokoh pemberontakan PKI Madiun

Jalan sejarah PKI menemukan momentumnya setelah Indonesia merdeka. Dari dalam tanah mereka bangkit dan merangsek menuju panggung kekuasaan Republik Indonesia yang masih seumur jagung. Bagian ke-2 dari seri sejarah PKI ini mendedahkan pergerakan PKI di seputar kemerdekaan hingga kembalinya Musso dari Uni Soviet.

Peran Kelompok Kiri Menjelang Kemerdekaan

Ada klaim yang kerap dijadikan pembelaan pendukung PKI, bahwa kaum komunis punya saham dalam kemerdekaan RI. Kader-kader komunis seperti DN Aidit, Sidik Kertapati dan Wikana memang terlibat aktif dalam peristiwa menjelang 17 Agustus 1945 tersebut.

Namun ada hal menarik yang diungkap Soe Hok Gie dalam Orang-orang Kiri di Persimpangan Jalan, yang mengungkap dengan gamblang pergerakan kelompok komunis.

Pada saat itu, antara kaum komunis dan nasionalis melebur dalam satu semangat dan nafas yang sama untuk mencapai kemerdekaan Indonesia tanpa membawa embel-embel ideologi. Mr Soebarjo misalnya tidak tahu jika Wikana adalah kader PKI. Mungkin ini juga strategi kaum komunis agar diterima gerakan kemerdekaan yang heterogen itu.

Ada satu figur penting yang mungkin jarang disebut, yang punya saham besar dalam proklamasi 17 Agustus. Adalah Faradj Martak (1897-1962), seorang saudagar keturunan Arab, menghibahkan rumahnya di Jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta kepada Soekarno. Di rumah inilah pada 17 Agustus 1945 dikumandangkan naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, lengkap dengan pengibaran Sang Saka Merah Putih seperti yang kerap kita lihat dalam foto-foto ikonik tentang peristiwa paling bersejarah itu. Jadi jika ada klaim pemuda-pemuda komunislah yang paling berjasa dalam Proklamasi, maka klaim itu terbantah telak.

Panggung Mewah PKI Pasca Proklamasi

Tak terelakkan lagi, Proklamasi 1945 memberi panggung mewah kepada para aktivis PKI. Tokoh-tokoh komunis veteran seperti Alimin, Setiadjid, Wikana, Maruto Darusman diangkat jadi menteri. Amir Syarifuddin sendiri kelak naik tampuk sebagai perdana menteri sekaligus menteri pertahanan (3 Juli 1947-29 Januari 1948). Jabatan srategis ini tak disia-siakannya. Amir menggalang penuh kekuatan sayap kiri dalam pemerintahan maupun di luar pemerintahan dengan mempersenjatai laskar-laskar kiri seperti Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo) hingga menjadi salah satu laskar bersenjata terkuat waktu itu.

Pada 1947, kelompok kiri berhasil memasukkan 50 kadernya di Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP). Di antara 50 itu ada dua nama penting yang perlu saya sebut: Aidit dan Nyoto. Dua sosok inilah yang kelak paling sering disebut sebagai otak pemberontakan PKI 1965. KNIP dibentuk berdasarkan Hasil Sidang PPKI pada 18 Agustus 1945, cikal bakal parlemen RI. Ketua KNIP pertama adalah Mr. Kasman Singodimejo (Masyumi). Dengan bertambahnya kekuatan sayap kiri di pemerintahan, maka kelompok kiri mendapat ruang yang luas untuk unjuk gigi di hadapan rakyat.

Ada fragmen menarik yang ditulis Ahmad Masyur Suryanegara dalam Api Sejarah jilid-2, tentang pertemuan PM/Menhan Amir Syarifuddin dengan Van Mook (mantan Wakil Gubernur Hindia Belanda) pada 14 Juli 1947. Sepekan kemudian, 21 Juli 1947 Belanda melancarkan Agresi Militer ke-1. Van Mook memang punya ikatan erat dengan kelompok komunis sejak sebelum kedatangan Jepang. Van Mook-lah yang memindahkan tahanan Digoel ke Australia dan membiayai kelompok PKI Sibar pimpinan Sardjono. Juga dengan uang Van Mooklah Amir Syarifuddin menggerakkan komunis bawah tanah selama pendudukan Jepang di Indonesia.

Patut menjadi pertanyaan, apakah gerakan komunis pada masa itu—dan mungkin masa setelahnya—juga atas sponsor pihak Belanda? Ada sejumlah analisis mengenai keterlibatan van Der Plas (tangan kanan van Mook) dalam mensponsori gerakan kiri di Indonesia hingga terjadinya pemberontakan G30S/PKI pada 1965 kelak.

Secara psikologis ini bisa dipahami. Sejak diakuinya pemerintahan RI, secara ekonomi Belanda telah merugi banyak dengan hilangnya sumber keuangan setelah seluruh perusahaannya di Indonesia dinasionaliasi. Sebagai pihak yang merasa dirugikan secara ekonomi tentu saja Belanda, atau oknum-oknumnya yang selama ini menikmati kue kekuasaan di Indonesia tak mau begitu saja melepas tanah jajahannya. Maka mereka memerlukan kepanjangan tangan untuk merebut kembali sumber uangnya. Atau, jika tidak memungkinkan minimal membuat tanah bekas jajahannya kacau balau. Dan kelompok yang paling mudah diajak kerja sama adalah PKI, bukan nasionalis apalagi agamis.

Perjanjian Renville

Kembali ke soal gerakan komunis pasca kemerdekaan. Untuk menyelesaikan sengketa antara Belanda yang ingin kembali menjajah Indonesia, diselenggarkanlah perundingan Renville pada 18 Desember 1947-17 Januari 1948. Indonesia (diwakili PM Amir Syarufuddin) dan Belanda (diwakili Abdulkadir Widjojoadmodjo).

Hasil perjanjian ini segera jadi awal malapetaka bangsa Indonesia. Belanda hanya mengakui Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Sumatra sebagai bagian wilayah RI. TNI harus ditarik mundur dari daerah-daerah kantongnya di wilayah pendudukan di Jawa Barat dan Jawa Timur. Namun tidak semua pejuang Republik yang tergabung dalam berbagai laskar, seperti Barisan Bambu Runcing dan Laskar Hizbullah/Sabillilah di bawah pimpinan Sekarmaji Marijan Kartosuwiryo, mematuhi hasil Persetujuan Renville tersebut. Mereka terus melakukan perlawanan bersenjata terhadap Belanda. PB Sudirman sendiri amat kecewa dengan hasil perjanjian yang merugikan RI ini.

Partai-partai nasionalis-agamis juga menolak. Masyumi dan PNI menarik diri dari kabinet Amir. Tokoh komunis yang dua kali menjabat perdana menteri itu kehilangan legitimasinya: jatuh tersungkur. Berakhirlah pemerintahan sayap kiri yang berlangsung sejak November 1945 sampai Januari 1948. Soekarno menunjuk Hatta sebagai perdana menteri menggantikan Amir.

Lahirnya Front Demokrasi Rakyat (FDR)

Jalan sejarah PKI berikutnya boleh dibilang penuh petualangan. Amir yang terdepak dari kabinet mulai menggalang kekuatan ekstra parlementer. Kelompok kiri seperti Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo), PKI, Partai Buruh Indonesia (PBI), Partai Sosialis, SOBSI kemudian digabung dalam Front Demokrasi Rakyat (FDR) pada Februari 1948.

FDR bergerak di bawah garis Stalin, diktator komunis Rusia yang saat itu sedang berkuasa. Tujuan utama bergabungnya sayap kiri dalam FDR adalah menggoyang Kabinet Hatta yang didominasi Masyumi, lawan utama kelompok kiri. Di akar rumput terjadi gejolak hebat. Aksi-aksi kerusuhan, pemogokan, perampokan, penculikan dan sabotase terjadi di Delanggu, Solo dan sekitarnya.

Sementara itu FDR terus mendesak Hatta untuk dapat mendudukkan wakilnya di parlemen. Hatta tentu saja menolak karena tuntutan FDR dinilai sangat tidak rasional: FDR menginginkan separuh kursi parlemen diserahkankan kepada mereka. Upaya kaum kiri untuk comeback di pemerintahan gagal total.

Hari-hari Sebelum Kudeta PKI Madiun 1948

Dalam situasi kacau seperti inilah, pada 11 Agustus 1948, datang Soeripno (komunis) wakil RI di Praha bersama “sekretasi”nya, Soeparto, di Yogyakarta, pusat pemerintah RI waktu itu. Tiga hari kemudian keduanya bertemu Soekarno. Barulah kemudian publik sadar, Soeparto tak lain adalah tokoh veteran PKI, Musso. Harry A Poeze dalam Madiun 1948: PKI Bergerak, mengutip berita koran ‘Revolusioner’ yang menggambarkan pertemuan dua kawan lama itu:

Sungguh mengharukan pertemuan antara Bung Karo dan Pak Musso ketika itu. Sahabat karib jang berpuluh tahun tak berdjumpa. Bung Karno memeluk Musso dan Musso memeluk Bung Karno. Mata berlinang. Kegembiraan ketika itu rupanja tak dapat mereka keluarkan dengan kata2..

Sementara itu Tan Malaka yang baru dibebaskan dari penjara Madiun (dipenjara sejak sd 17 Agustus 1948) mulai menunjukkan konfrontasi dengan Musso dkk. Mula-mula ia dan pengukitnya membongkar kebobrokan PKI sayap Amir dkk. Dalam sebuah rapat umum, Rustam Effendy (eks PKI Australia) membongkar borok Setiadjid dan Maruto Darusman yang disebut sebagai orang yang bersepakat di belakang layar dalam mendirikan Uni Indonesia Belanda. Setiadjid dan Maruto adalah kawan Rustam sesama eks Digoel dan Australia. Jadi tentu saja Rustam tahu betul sepak terjang keduanya. Rahasia ihwal Amir pernah menerima 25 ribu gulden dari van Der Plas pun juga dibongkar habis.

Aib itu mengejutkan banyak pihak. Muka Amir dkk seperti dicoreng tinta hitam. Amir dkk dianggap penghianat atas cita-cita proklamasi 45. Sebagai arsitek perjanjian Linggar Jati dan Renville yang terang merugikan RI, Amir pun dicap sebagai agen pemerintah Belanda di Indonesia.

Tan Malaka sendiri sebagai pribadi memang sosok yang unik. Hingga akhir hayatnya, dia bermusuhan dengan kelompok komunis arus utama (Musso & Amir dkk). Dia nasionalis, berbeda dari komunis arus utama yang membebek ke organisasi komunis internasional. Dia justru dekat dengan kelompok-kelompok Islam seperti Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII), ulama NU, tokoh-tokoh Masyumi dan rapat hubungannya dengan Panglima Sudirman. Bahkan Hamka memberi pengantar bukunya yang terkenal: Islam dalam Tinjauan Madilog.

Sementara itu Musso terus menjalankan agenda Stalin-nya. Kedatangannya pada Agustus itu memang bukan ujung-ujug, tetapi sudah direncanakan, setidaknya sejak awal tahun 1948. Selama masa itu ia terus berkonsultasi dengan Soviet, hingga disusunlah protokol yang kemudian disebutnya Djalan Baru PKI. Harry A Poeze dalam Madiun 1948: PKI Bergerak, mengutip alenia terakhir isi protokol Djalan Baru tersebut:

Sdr. Stalin mengatakan, bahwa tidak ada satu bentengpun djuga jang tidak dapat direbut oleh kaum Bolsewik. Maka itu jakinlah, bahwa kaum Bolsewik Indonesia akan dapat merebut benteng jang terantjam bahaja dihadapan mereka, jaitu benteng Indonesia Merdeka

Jadi pulangnya Musso ke Indonesia bukannya tanpa misi. Ia membawa mandat Stalin untuk menyelaraskan haluan gerakan komunis di Indonesia dengan jalan baru Kominform (organisasi komunis sedunia yang dibentuk 1947, setelah bubarnya Komintern 1943). Sejak 1926, Musso memang berdiam di Rusia. Selama masa pergolakan kemerdekaan RI ia terus memantau perkembangan Indonesia dan mengabarkannya ke induk semangnya, Stalin. Agenda utama kepulangan Musso adalah mendirikan Republik Soviet Indonesia sesuai amanat Stalin, yang nanti diproklamirkan pada 18 September 1948.

Baca Juga:

Sejarah PKI (I): Awal Berdiri

Sejrah PKI (III): Pemberontakan Madiun 1948

Ketika Para Kiai dibunuh

Oleh Md Aminudin (Penulis Novel Sejarah)

_________________________

Referensi:

  • Deliar Noer, Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900 – 1942. LP3ES, 1980.
  • George McTurnan Kahin, Nasionalisme dan revolusi di Indonesia: refleksi pergumulan lahirnya republik. Pustaka Sinar Harapan, 1995
  • Kemunculan Komunisme Indonesia. Ruth T. McVey. Komunitas Bambu. 2010.
  • Komunisme di Indonesia (jilid 1), Pusjarah TNI, 2009.
  • Hary A Poeze. PKI Sibar: Persekutuan Aneh Antara Pemerintah Belanda dan Orang Komunis di Australia 1943-1945. Komunitas Bambu, 2014.
  • Rupert Lockwood, Armada Hitam, Gunung Agung, 1983.
  • Soe Hok Gie, Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan, YBentang Budaya-Yogyakarta, 1997.
  • Taufik Abdullah, Manusia dalam Kemelut Sejarah, Prisma-Jakarta, 1977.

Share:

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on pinterest

Update Artikel Terbaru

Dapatkan beragam artikel sejarah yang renyah dibaca namun ditulis secara mendalam

ARTIKEL TERKAIT
%d blogger menyukai ini: