Sejarah PKI Lengkap (I); Dari Pecahnya SI Hingga Penjajahan Jepang

Pengurus PKI dan SI Makasar bergambar bersama 28 April 1923 (Dok. Perpusnas)

Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, Partai Komunis Indonesia (PKI) mungkin sebuah nama yang tak asing. Namun barangkali jarang yang mengetahui sepakterjangnya secara detil. Artikel berseri ini mencoba mendedah sejarah PKI secara lengkap dari pra-kemerdekaan hingga Orde Lama, era ketika PKI berjaya.

ISDV, Cikal Bakal PKI

Sejarah Partai Komunis Indonesia (PKI) tidak bisa dipisahkan dari Indische Sociaal Democratische Vereeniging (ISDV). Oranisasi ini dirikan pada 1914 oleh Henk Sneevliet, orang Belanda penganut marxisme. Sebagai penjajah, Belanda memiliki kepentingan untuk memecah konsentrasi gerakan nasional yang menggeliat sejak awal abad 20 (Budi Utomo, Muhammadiyah, Sarekat Islam etc.)

Di antara bertumbuhnya organisasi pergerakan tersebut, Belanda menganggap gerakan-gerakan Islamlah yang paling berbahaya. Mengapa? Pertama karena sikap tidak mau berkompromi, kedua karena sifat radikalnya. Belanda menanggung trauma panjang terhadap perlawanan umat Islam di Nusantara terutama sejak Perang Jawa 1925-1930 yang dipimpin Pangeran Diponegoro. Perang yang hampir membuat Belanda Bangkrut.

Snevlet yang antek penjajah Belanda itu mafhum, ISDV tak akan bisa berkembang cepat kalau tidak membenalu (menumpang) ke organ lain. Maka Sarekat Islam (SI) jadi sasaran untuk diinfiltrasi. Snevlet menggunakan istilah β€œblok dalam” untuk taktik ini. Kelak di masa Aidit PKI juga menggunakan taktik yang mirip, yaitu “kerja di kalangan musuh” dalam usaha menginfiltrasi kalangan militer.

Pertanyaannya mengapa SI, mengapa bukan Budi Oetomo, bukan Trikoro Darmo? Pertama, SI punya massa besar yang mengakar hingga rakyat bawah, anggotanya menyebar di antero negeri. Jauh sebelum ada ISDV, SI sudah lebih dulu melakukan pembelaan terhadap kaum buruh dan petani. Kedua, SI lumayan terbuka-demokratis dibanding, misal Muhammadiyah waktu itu. Jika SI bisa diobok-obok maka lebih mudah untuk pecah belah pergerakan nasional lainnya.

Banyak anggota SI yang kemudian kepincut ide-ide revolusioner gadungan ala Snevlet, antara lain: Semaun, Alimin, Darsono. Di bawah bimbingan Snevlet, ketiganya terus memasukan ide-ide komunisme di kalangan anggota SI Semarang. Usaha itu berhasil. SI pecah menjadi dua blok: SI Putih pimpinan Hos Cokroaminoto & Abdoel Moeis (kelak juga dikenal sebagai sastrawan besar) berpusat di Yogya, dan SI Merah pimpinan Semaun berpusat di Semarang.

Dengan licik mereka tak langsung proklamirkan diri sebagai organisasi komunis, tapi tetap memakai nama SI. Sebab jika langsung memproklamirkan diri sebagai gerakan komunis, pasti ditolak oleh rakyat. Taktik ini tak sia-sia. SI Semarang yang pada 1916 beranggota 1.700, pada 1917 meningkat pesat menjadi 20 ribu.

Pimpinan dan anggota SI ideologis menolak ide-ide komunisme yang diusung Semaun dkk. Mereka tahu Semaun hanyalah kepanjangan tangan Snevlet, si antek Belanda. Keputusan Kongres SI di Madiun pada 17-20 Februari 1923 resmi mendepak Semaun dkk sebagai bagian dari usaha SI untuk memutus pengaruh komunis di dalam tubuh organisasi.

Semaun melawan; selang sebulan kemudian, mereka menggelar kongres tandingan pada Maret 1923 di Bandung. Keputusannya; semua cabang SI di Indonesia yang mendukung Semaun berganti nama menjadi Sarekat Rakyat. Inilah cikal bakal Partai Komunis Indonesia yang didirikan kelak pada tahun 1924 dengan Semaun sebagai ketua pertamanya.

Pemberontakan yang Gagal

Sejarah berdarah PKI di Indonesia dimulai pada 1926. Setelah menimbang bahwa akar-akarnya sudah lumayan kuat, pada 1926, PKI memutuskan untuk memberontak. Pemberontakan itu justru banyak disokong oleh orang-orang Islam yang tertipu oleh janji-janji manis PKI. Niat pemberontakan itu sebelumnya ditolak oleh pimpinan PKI sendiri, Tan Malaka. Ia menolak dengan alasan; akar PKI belum kuat. Kalau sampai pemberontakan gagal ini bisa berimbas kepada gerakan lainnya.

Ini jadi babak awal permusuhan Semaun, Muso dkk vs Tan Malaka. Muso benci setengah mati dengan Tan. Kelak Muso mengeluarkan maklumat untuk membunuh Tan Malaka karena dianggap Trotskys, penghianat.

Analisis Tan Malaka tak meleset. Belanda berhasil menumpas pemberontakan yang seumur jagung itu. Pemberontakan di Banten pada 1926 dan Sumatera Barat pada 1927 gagal total. 1.300 anggota PKI Banten ditangkap, dibuang ke Digoel, Papua. Termasuk para ulama Banten, seperti Tubagus KH Achmad Chatib, Tubagus H Abdulhamid, KH Mohammad Gozali, Tubagus KH Abdul Hadi, Puradisastra, Alirachman (Aliarcham), dan Tubagus Hilman.

Pemberontakan itu juga berdampak luas pada nasib pergerakan lainnya. Belanda melakukan pembatasan rapat, pertemuan dan menangkapi tokoh-tokoh pergerakan. Sekali lagi kekhawatiran Tan Malaka terbukti.

Untuk sementara PKI tiarap, tapi tidak mati.

PKI Sibar, Bekerjasama dengan Imperialis

Pada 1937, berdirilah partai Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo) sebagai ekses pembatasan-pembatasan pergerakan yang dilakukan Belanda. Gerindo adalah kelanjutan Partindo yang dibubarkan Belanda pada 18 November 1936. Organisasi politik Gerindo bercorak sosialis. Berbeda dari Partindo yang non-kooperatif, Gerindo menempuh jalan yang lebih luwes; mau bekerja sama dengan kolonlialis Belanda. Sikap ini sesuai dengan anjuran Georgi Dimitrov, Sekjen Komunis Internasional (Komintern) ketika itu. Dimitrov menganjurkan supaya seluruh gerakan komunis di negara mana pun menggalang kerja sama dengan kaum imperialis untuk menghadapi bahaya fasisme Jepang dan Jerman.

Karena kesamaan ideologi, banyak kader komunis masuk menjadi anggota, antara lain: Mr. Amir Sjarifuddin Wakil Ketua Gerindo dan Wikana pimpinan Pemuda Gerindo. Aktivitis kiri lain yang juga digodok dalam Gerindo adalah D.N. Aidit, Anwar Kadir, Nungtjik AR., Ir. Sakirman, Sidik Kertapati, Sudisman, Sudjoyono, Tjugito, dan Mr. Joesoeph.

Secara khusus perlu dijelaskan siapa Amir Syarifuddin ini, sosok yang kelak jadi aktor penting pra dan pasca kemerdekaan hingga Pemberontakan PKI Madiun 1948. Dari namanya kita sudah bisa menebak bahwa dia Muslim. Betul, dia memang lahir dari keluarga Muslim sebelum kelak memeluk Kristen. Lahir di Medan, Sumut 27 April 1907, berasal dari keluarga aristokrat yang memungkinkannya masuk ke sekolah-sekolah paling elit.

Mr Amir Syarifuddin

Perkenalan Amir dengan Marxisme – Leninisme bermula ketika studi d Belanda antara tahun 1921 sampai 1927. Amir menjadi anggota Perhimpunan Indonesia (PI). Di organisasi inilah Amir bertemu dan mendapat gemblengan dari Semaun, salah seorang pimpinan PKI yang dibuang ke negeri Belanda pasca pemberontakan 1926. Pada mulanya PI adalah organisasi moderat. Ada banyak tokoh seperti M Hatta, Sutan Sjahrir, Sutomo (Bung Tomo) Sakirman (kelak pimpinan Masyumi), jadi anggotanya. Hingga kemudian kelompok kiri menguasai PI dan mencetak banyak kader pentingnya dari sana.

Hingga pada 1940, datang seorang belanda ke kamp Digoel di Papua. Namanya Charles Olke van der Plas. Waktu itu menjabat sebagai Gubernur Jatim hingga kelak kedatangan Jepang pada 1942. Ia merayu para Digulis untuk membentuk font anti fasis yang berbasis di Australia. Pimpinan PKI Digul menerima tawaran itu. Dalam bukunya 𝑃𝐾𝐼 π‘†π‘–π‘π‘Žπ‘Ÿ: π‘ƒπ‘’π‘Ÿπ‘ π‘’π‘˜π‘’π‘‘π‘’π‘Žπ‘› π΄π‘›π‘’β„Ž π΄π‘›π‘‘π‘Žπ‘Ÿπ‘Ž π‘ƒπ‘’π‘šπ‘’π‘Ÿπ‘–π‘›π‘‘π‘Žβ„Ž π΅π‘’π‘™π‘Žπ‘›π‘‘π‘Ž π‘‘π‘Žπ‘› π‘‚π‘Ÿπ‘Žπ‘›π‘” πΎπ‘œπ‘šπ‘’π‘›π‘–π‘  𝑑𝑖 π΄π‘’π‘ π‘‘π‘Ÿπ‘Žπ‘™π‘–π‘Ž 1943-1945 (2014), Harry Albert Poeze mencatat bahwa van der Plas berhasil membawa 524 penghuni Digoel ke Australia. Pada 6 Agustus 1944 terbentuklah Serikat Indonesia Baroe (SIBAR).

Selain kelompok yang dibentuk Musso dan eks Digoelis, Van der Plas juga mendekati Amir Syarifuddin. Pada 1940, Amir ditangkap. Pemerintah Hindia Belanda menawarkan dua pilihan, dibuang ke Digoel atau bekerja sama dengan pemerintah Hindia Belanda. Amir memilih yang kedua. Van der Plas kemudian memberinya 25.000 gulden sebagai modal menyusun gerakan bawah tanah.

Dengan uang van Der Plas itu, PKI Amir mulai membangun kekuatan bawah tanah, bersetubuh dengan organ perjuangan Indonesia, membentuk organisasi Gerakan anti Fasis (Geraf). Saat Amir ditangkap Jepang pada 1943, estafet Geraf dilanjutkan oleh Widarta sang sekretaris. Pada masa inilah ia berkolaborasi dengan DN Aidit, pemuda 20 tahun, seorang Marxis anggota Komintren. Mereka masuk ke kelompok-kelompok pemuda, merekrut kader untuk dibina menjadi komunis. Pada era inilah nama Aidit dan MH Lukman mulai moncer, dua orang yang kelak pimpin PKI hingga jadi partai terbesar ke 4 pada Pemilu 1955.

Baca Selanjutnya:

Sejarah PKI (II)); Dari Proklamasi hingga Kembalinya Musso

Sejarah PKI (III): Pemberontakan Madiun 1948

Share:

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on pinterest

Update Artikel Terbaru

Dapatkan beragam artikel sejarah yang renyah dibaca namun ditulis secara mendalam

ARTIKEL TERKAIT
%d blogger menyukai ini: