Seni Islam, Harta Karun Peradaban

Arsitek-Terbaik-Dalam-Sejarah-Islam

Syahdan, setelah mendengar Said bin Zaid membaca surat al-Hadid ayat 5 – 7 yang diakhiri dengan kalimat; Dialah yang memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam. Dan Dia Maha Mengetahui segala isi hati, Umar bin Khattab tertegun, mulutnya seperti dibungkam. Ia takjub pada isi dan bahasa nan indah itu. Hatinya menggumamkan kesadaran, bahwa mustahil ayat-ayat ini dikarang manusia. Itulah fragmen singkat tentang Islamnya orang yang pada mulanya pembenci Rasulullah nomor wahid itu. Umar terpana oleh keindahan bahasa al-Qur’an yang menggambarkan kebenaran risalah Muhammad.

Umar bukan orang satu-satunya yang terkagum oleh bahasa al-Qur-an. Bahkan di zaman modern ini, tak sedikit kisah-kisah orang yang masuk Islam setelah membaca satu dua ayat al-Qur’an. Di luar kontennya yang berisi pesan-pesan Ilahiah dan cerita sarat hikmah, bahasa al-Qur’an yang indah, puitis dengan kandungan sastrawi yang tak tertandingi mutunya itu gampang merasuki hati siapapun yang membacanya. 

Al-Qur’an adalah induk dari seni Islam. Dari al-Qur’an muncul berbagai turunan seni, dari qiraah, sastra, seni peran, arsitektur hingga kaligrafi. Sumbangsih seni Islam bagi peradaban dunia tak terbantahkan lagi. Dari ujung barat hingga timur, membentang museum bukti-bukti kehebatan seni Islam. Di Spanyol, terdapat Istana Cordova dan Granada. Dalam catatan sejarah disebutkan bahwa Istana Cordova dikelilingi taman-taman serta bunga-bunga yang diimpor dari Timur. Sedangkan di Granada istananya terkenal sebagai manifestasi puncak kejayaan arsitektur Muslim Spanyol. 

Baca juga Khasanah Seni Baca Al-Qurán

Selain itu, sejarah juga mencatat tempat peribadatan umat Islam yaitu masjid, juga berdiri dengan megahnya. Sejumlah masjid di Kekhalifahan Umayyah di Damaskus dibangun dengan pola arsitektur yang memadukan dekorasi dan motif-motif halus dari unsur Kristen, Bizantium dan Sasania. Kesemuanya itu merupakan sepenggal cerita kemajuan yang pernah dicapai oleh Islam dalam bidang arsitektur. Islam juga mencatat perkembangan dalam bidang sastra. Pada masa pemerintahan Umayyah, istana khalifah tersebut menjadi panggung teater yang memainkan serial drama kerajaan. 

Dari pelataran Jazirah dan negeri Eropa, seni Islam pun membentang hingga ke Nusantara. Wali Songo, boleh dibilang sebagai peletak dasar dakwah Islam yang paling cemerlang sepanjang sejarah Islam di Nusantara. Hampir semua sejarawan sepakat bahwa berkat tangan dingin Wali Songolah, Islam yang semula asing itu menjadi agama mayoritas hingga sekarang.

Keberhasilan dakwah mereka juga disokong oleh selera yang tinggi atas seni. Mereka sadar betul, sebagai agama baru yang masih terbilang asing bagi budaya masyarakat Nusantara, Islam harus disampaikan dengan luwes. Luwes di sini bukan berarti mencampur aduk antara yang dilarang dan dibolehkan, melainkan mengakomodir bentuk-bentuk seni lokal yang tidak bertentangan dengan ajaran Islam.

Maka dari tangan mereka lahirlah karya-karya seni yang tetap lestari hingga sekarang. Sunan Kalijaga menggubah Lir-ilir yang amat filosofis dan sastrawi namun dengan bahasa yang mudah dicerna masyarakat. Sunan Kudus mendirikan Masjid Kudus dengan memadukan arsitektur Islam dan Hindu. Sunan Kalijaga dan Sunan Gresik menggunakan wayang yang notabene budaya dari India, sebagai alat dakwah.

Seni Kaligrafi

Dari al-Qur’an lahir seni turunannya, yaitu kaligrafi. Seni tulis al-Qur’an ini pada awalnya lebih banyak dipakai sebagai hiasan pada dinding-dinding istana dan masjid Kekhalifahan Islam. Pada perkembangannya, kaligrafi banyak menghiasi dinding-dinding rumah kaum Muslimin. Di Indonesia, kaligrafi pertama kali ditemukan pada batu nisan makam Fatimah binti Maimun di Gresik (wafat 1082 M) yang sekaligus menjadi penanda awal masuknya Islam di Indonesia dan beberapa makam lainnya pada abad ke-15 masehi (Prof. Dr. Hasan Muarif Ambary). 

Kaligrafi Utsmaniyah abad ke-18, bertuliskan frasa “Ali Khalifatullah” dalam tulisan cermin dua arah

Bahkan, sejak kehadirannya di Asia Tenggara dan Nusantara, kaligrafi sudah banyak dipakai untuk materi pelajaran, catatan pribadi, naskah perjanjian resmi, mata uang, kepala surat, tanda tangan dan stempel. Huruf kaligrafi yang khas Nusantara ini biasa disebut huruf Arab Melayu, Arab Jawa atau Pegon.

Dalam bidang seni lagu, khasanah seni Islam diperkaya oleh barzanji. Di Indonesia bagian timur, barzanji lebih dikenal dengan sebutan berjanji, sementara orang Jawa menyebutnya diba’ yang berarti laguNama barzanji merujuk pada nama pengarangnya, yaitu Syekh Ja’far al-Barzanji bin Abdul Karim (1690-1766). Barzanji berisi puji-pujian dan cerita ihwal kemuliaan akhlak Rasulullah. Bagi masyarakat Jawa, terutama kaum Nahdliyin, pembacaan barzanji atau diba’, adalah acara rutin pekanan yang menggaungkan syiar Islam hingga ke pelosok-pelosok desa.

Di luar itu, masih banyak seni Islam lain seperti qiraah (seni baca al-Qur’an), dan juga tak kalah populer adalah puji-pujian yang berisi bacaan zikir sebelum shalat wajib (umumnya dilakukan warga Nahdliyin) menjadi bukti betapa luas dan kayanya seni Islam. Melalui berbagai macam seni itulah, pesan-pesan Ilahiah sampai ke relung jiwa umat, dan melestarikan syiar Islam. 

Penulis: Md Aminudin 

Share:

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on pinterest

Update Artikel Terbaru

Dapatkan beragam artikel sejarah yang renyah dibaca namun ditulis secara mendalam

ARTIKEL TERKAIT
%d blogger menyukai ini: